Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
eproduk
Kalender Tanam

Video Inovasi

Video Lainnya

Waktu Banten

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday28
mod_vvisit_counterYesterday614
mod_vvisit_counterThis week3123
mod_vvisit_counterLast week3284
mod_vvisit_counterThis month14378
mod_vvisit_counterLast month13740
mod_vvisit_counterAll days354568
MEWASPADAI LEDAKAN HAMA ULAT BULU DI PROVINSI BANTEN PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 03 Mei 2011 08:30
SEMINAR RUTIN BPTP BANTEN
Serang, 25 April 2011
Oleh : Sri Kurniawati, Sp

Fenomena Ulat Bulu

Berita di berbagai media masa cetak maupun elektronik beberapa pekan ini marak memberitakan serangan ulat bulu. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa barat, Bali, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan terakhir di Banten juga serangan ulat bulu telah masuk dalam pemberitaan. Pada umumnya tanaman yang diserang adalah tanaman tahunan diantaranya adalah: tanaman mangga, alpukat, rambutan, kedondong, asam, jengkol, tangkil, manggis, kenanga, ketapang dan lain-lain. Namun di beberapa provinsi melaporkan ulat bulu menyerang daun singkong di Lampung Tengah, Kacang panjang dan semak-semak di Bekasi Jawa barat.
Serangan ulat bulu yang terjadi akhir- akhir ini disebabkan karena adanya perubahan iklim yang menyebabkan perkembangbiakan ulat menjadi lebih cepat sekitar 4-5 minggu dikarenakan kondisi lingkungan yang lembab dengan temperatur yang cukup tinggi. Selain itu karena keberadaan musuh alami ulat bulu ini berkurang seperti burung, semut rangrang dan beberapa jenis tabuhan (serangga parasitoid telur, larva dan pupa). Berkurangnya musuh alami ini disebabkan maraknya perburuan burung pemakan serangga dan semut rangrang yang menjadi predator ulat bulu ini dan pemakaian insektisida yang berlebihan menyebabkan populasi serangga parasitoid berkurang. Terganggunya keseimbangan agroekosistem inilah yang menjadikan ledakan serangan ulat bulu (Suryo, 2011; Kompas, 2011; Harahap, 2011).
Ledakan hama ulat bulu di Probolinggo bukan yang pertama kali, sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1936 meskipun tidak sehebat saat ini (Yusuf dalam Kompas, 2011). Menurut Kardinan (2011), penyebab ledakan ulat bulu di Probolinggo selain perubahan iklim dan berkurangnya musuh alami adalah terjadinya migrasi ngengat ulat dari gunung Bromo yang erupsi beberapa waktu yang lalu. Salah satu ciri serangga hama migrasi adalah ditemukannya serangga pada umur yang sama pada jumlah yang banyak.
Ulat Bulu yang menyerang di Probolinggo dan daerah lainnya merupakan serangga dari ordo Lepidoptera, family Lymantriidae. Family Limnatriidae ini terdiri dari sekitar 350 genus dan mempunyai jenis yang sangat banyak yaitu 2500-2700 spesies. Adapun species yang sudah teridentifikasi menyerang dibeberapa tempat di Jawa, Bali dan Sumatera adalah: Lymantria marginata, Actornis submarginata, Dasychira inclusa, Orgya postica, Cricula trifenestrata, Parasa lepida, Cyana veronata, Trabala sp dan Maenas sp. (Kardinan, 2011; Syafril, 2011; Wahyuni, 2011). Serangga ini termasuk hewan golongan noctuidae yaitu serangga yang aktif di malam hari. Ulat pada siang hari bergerombol di tempat yang teduh/ terlindung dari sinar matahari.
Lymantria marginata dan Arctornis submarginata yang menyerang pohon mangga di daerah Probolinggo termasuk dalam kategori ulat bulu gatal. Hal ini dikarenakan pada pada ulat tersebut memiliki semacam duri (spine) dan kelenjar beracun yang dapat menyebabkan rasa gatal, panas dan perih jika terkena pada kulit manusia. Perkembangbiakan ulat ini sangat cepat. Satu ekor ngengat (serangga dewasa) dapat bertelur sebanyak 70 – 300 butir dan hanya membutuhkan waktu 4-7 minggu untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya. Telur diletakkan pada helaian daun dan ulat yang menetas bergerombol dan melekat pada lekukan batang pohon.
Di sumber lain menyebutkan bahwa ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Probolinggo adalah Arctornis riguata. Keunikan yang dimiliki oleh spesies ini adalah memiliki pupa yang telanjang/tidak diliputi oleh serabut atau benang-benang halus seperti jaring laba-laba yang seyogyanya dimiliki oleh ulat bulu lainnya. Ulat ini lebih menyukai tanaman mangga manalagi dibandingkan arumanis. Hal ini diduga karena kandungan komposisi daun mangga manalagi lebih banyak mengandung kadar gula dibandingkan dengan protein sehingga ulat cenderung makan lebih banyak. Selain itu, mangga manalagi memiliki kanopi yang lebih lebat dibandingkan dengan arumanis. Hal ini merupakan kondisi ideal bagi ulat yang tidak menyukai sinar matahari langsung (Hari Sutrisno dalam Suryo, 2011).
Sedangkan ulat bulu Trabala sp yang menyerang pohon salam dan Maenas sp.yang menyerang tanaman kenanga di Jogyakarta tidak temasuk ulat yang menyebabkan gatal. Keunikan dari ulat Trabala adalah memiliki sifat kamuflase yaitu warna kulit tubuhnya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga seringkali keberadaannya tidak disadari. Trabala dan Maenas bertelur tidak sebanyak Lymantria yaitu hanya 30-70 ekor.
Di Banten, serangan ulat bulu dilaporkan terjadi di Kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang yang menyerang pohon kecapi dengan populasi 200 ekor dan telah dilakukan tindakan pengendalian dengan membakar ulat tersebut. Sementara itu dilaporkan juga serangan ulat terjadi di Kota Tangerang Selatan pada tanaman jeruk, namun sampai dengan saat ini spesies ulat bulu tersebut belum diketahui.
Pohon yang diserang ulat bulu hanya menghabiskan daun saja dan tidak mematikan titik tumbuh sehingga tidak menimbulkan kerugian yang fatal. Namun demikian, hal ini harus menjadi perhatian bersama karena akan sangat mengganggu ketenangan dan aktivitas kita bahkan mungkin sektor pariwisata akan terganggu dengan kehadiran ulat-ulat ini sehingga membuat enggan para wisatawan berkunjung.

Upaya Antisipasi dan Strategi Pengendalian Ulat Bulu
Upaya antisipasi ledakan hama ulat bulu ini perlu dilakukan secara bijaksana. Tindakan pengendalian yang berlebihan (pembasmian) akan mengakibatkan dampak buruk lainnya. Beberapa sumber menyebutkan kehadiran ulat bulu ini (dan serangga atau hewan apapun) dibutuhkan dalam suatu ekosistem. Jika salah satu berkurang populasinya atau bahkan hilang akan mengganggu keberlanjutan fungsi dari ekosistem tersebut. Selain itu ada hal positif/berkah pada tanaman yang terserang ulat. Tanaman alpukat misalnya, akan berbuah lebat setelah daun banyak dimakan oleh ulat atau sering kita sebut terjadinya foliasi.
Antisipasi yang dapat dilakukan melalui langkah-langkah operasional sebagai berikut:
  1. Pengamatan populasi ulat secara teratur untuk tindakan yang cepat jika ditemukan populasi ulat yang berpotensi menimbulkan ledakan dan mencegah penyebaran ke wilayah lain.
  2. Melakukan pemetaan serangan ulat bulu di wilayah Banten
  3. Melakukan identifikasi : jenis dan jumlah populasi ulat bulu, jenis dan jumlah tanaman yang terserang
  4. Melakukan langkah-langkah pengendalian sesuai kondisi di lapangan
  5. Pelestarian dan pendayagunaan musuh alami ulat bulu seperti pathogen, predator dan parasitoid melalui ‘gerakan sejuta botol/tabung pendayagunaan musuh alami’/ ‘Tabung Pendama’
  6. Melakukan koordinasi antar instansi terkait (Dinas Pertanian Provinsi, Kabupaten/Kota, Badan Penyuluhan, BPTPH, BPTP, Dinas Kesehatan) dalam upaya antisipasi dan pengendalian ulat bulu
  7. Sosialisasi di berbagai media mengenai informasi ulat bulu yang benar dan berimbang dan upaya-upaya antisipasinya sehingga tidak menimbulkan keresahan dan ‘fobia’ terhadap ulat bulu.
Menurut I Wayan Laba, strategi pengendalian ulat bulu dapat dilakukan meliputi jangka pendek dan jangka panjang (Litbang Pertanian, 2011). Berikut ini strategi pengendalian ulat bulu dari berbagai sumber (Kardinan, 2011; Baliadi, 2011) yaitu:
  1. Pengendalian jangka pendek: a. Melakukan monitoring ulat agar populasi dapat dipantau sesegera mungkin. b. Pemeliharaan serta pelestarian musuh alami seperti predator semut rangrang dan burung dengan cara jangan menangkap burung dan mengambil telur semut, bahkan harus melestarikannya dengan cara membuatkan sarangnya. c. Pengendalian dengan cara fisik/mekanik melalui pengasapan, pengumpulan ulat secara masal kemudian dibakar atau dikubur agar bulu-bulunya tidak berterbangan yang dapat mengganggu pernafasan dan kulit. Atau dengan cara membakar langsung ulat yang terkumpul di batang tanaman pada siang hari. Pengendalian ini tergolong efektif, mudah dan cepat. d. Pemasangan lampu perangkap (light trap) untuk membunuh ngengat, karena ngengat aktif di malam hari dan tertarik cahaya. e. Pemeliharaan dan pelepasan parasitoid Brachymeria sp., Xantopimpla sp., Aphantheles sp. dan lain-lain, dengan cara mengumpulkan pupa/ kepompong dan memasukannya kedalam botol plastik (tabung pendama/tabung pendayagunaan musuh alami) yang diberi lubang-lubang, sehingga pupa yang berubah menjadi ngengat tidak dapat keluar, sedangkan parasitoidnya dapat keluar. f. Penggunaan agens hayati (jamur, virus, bakteri, nematode), dengan cara: f.1. Perbanyakan NPV dengan cara mengumpulkan ulat yang mati terserang NPV kemudian digerus dan dicampur air kemudian disemprotkan pada ulat yang yang sehat. Hasil perbanyakan dapat digunakan untuk mengendalikan ulat bulu. Data di Probolinggo, ulat bulu yang terserang NPV tanggal 8 April 2011 sebanyak 48,67% dan pada 15 April 2011 meningkat menjadi 66,18%. f.2. Perbanyakan jamur entomopatogen seperti Beauveria sp, Metarrhizium sp., Verticillium sp. dengan cara mengumpulkan kepompong atau ulat yang terkena jamur (berwarna putih – jamur Beauveria dan hijau – jamur Metarhizium), lalu perbanyak di media jagung atau beras dan semprotkan ke ulat, dan cara-cara lainnya. Di Probolinggo jamur entomopatogen ini terbukti efektif menyerang ulat bulu sebanyak 24,33% (Baliadi, 2011). g. Pemasangan pembatas (burrier) pada batang pohon mangga berupa lem atau kain beracun, khususnya bagi ulat Arctornis yang sifatnya ketika malam naik ke atas untuk memakan daun dan siangnya turun ke batang untuk istirahat. g.1. Plastik Berperekat Batang pohon (± 1,5 m dari permukaan tanah) dibungkus dengan plastik. Bagian tengah plastik dilapisi /diolesi lem dengan daya lekat yang tinggi. Ulat bulu yang berupaya memanjat pohon tidak dapat melewati plastik perekat. Ulat bulu akan terkumpul pada plastik dan dapat kita kumpulkan dengan memasukkan ke dalam ember yang berisi larutan detergen (± 2-3 cm). Apabila petani memiliki banyak pohon mungkin butuh waktu, tetapi cara ini efektif. g.2. Kain Goni Disemprot Pestisida Kain goni (lebar ± 15 cm) diikat keliling batang tanaman. Kain goni kemudian disemprot dengan insektisida (Deltametrin). Saat ulat bulu melewati kain goni, insektisida akan menempel dikakinya. Insektisida akan terserap ke tubu ulat dan mematikannya. g.3. Kain goni terlipat Ulat bulu yang baru menetas makan di siang dan malam hari, namun bila telah mencapai ukuran panjang tubuh (± ¾ inci) hanya makan pada malam hari. Mereka turun perlahan di pagi hari untuk mencari tempat berlindung/bersembunyi. Oleh karena itu mereka menyukai kain goni sebagai tempat berlindung yang baik. Menjelang sore mereka keluar, sehingga mereka akan meninggalkan lipatan kain goni. Kumpulkan dan matikan ulat-ulat yang terkumpul di kain goni. Ulangi proses ini minimal sekali dalam sehari h. Apabila cara 1 – 6 belum berhasil, maka dapat digunakan insektisida alami yang relatif ramah lingkungan, diantaranya insektisda nabati (berasal dari tumbuhan), seperti mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, suren dan lainnya. Perlu diketahui bahwa insektisa nabati bekerja lambat tidak seperti insektisida sintetis. i. Apabila cara 1 – 7 belum berhasil, dapat digunakan campuran minyak tanah (2-5%) dengan sabun cair (2–5%) dan air (90-96%), lalu semprotkan ke ulat. j. Apabila cara 1–8 belum berhasil, maka jalan terakhir menggunakan insektisida kimia sintetis yang daya racunnya rendah, serta persistensi dialam pendek (berlabel hijau). Insektisida sebaiknya diaplikasikan pada bagian batang tanaman (± 0-2 m di atas tanah). Dilakukan pada pk. 10.00-12.00 atau pada saat ulat bulu masih berkelompok di batang tanaman. Contoh pestisida yang dapat digunakan adalah Deltametrin 25 EC dengan konsentrasi rendah (1-2 ml/l). k. Cara lain adalah menggunakan Formula Bubur California (Syafril, 2011) Pembuatan bubur California ini sederhana yaitu: 1 kg belerang dicampur dengan 2 kg Kalsit ditumbuk halus dan diayak, kemudian dicampur dengan 10 liter air dan dimasak hingga mengeluarkan minyak. Biarkan bubur hingga terbentuk endapan. Cairan diatasnya digunakan sebagai insektisida dengan cara diseprotkan ke tanaman. Sedangkan endapannya dapat dioleskan pada batang tanaman yang berfungsi ganda selain sebagai insektisida juga dapat sebagai fungisida. l. Jangan menggunakan insektisida kimia sintetis untuk tindakan pencegahan, karena akan mengganggu keberadaan musuh alami dan mencemari lingkungan. m. Pengendalian saat ini secara operasional cukup dilakukan oleh Dinas Pertanian setempat bekerjasama dengan pihak terkait. n. Jika ada warga masyarakat yang gatal-gatal terkena ulat bulu, segera menghubungi puskesmas atau tenaga medis terdekat.
  2. Pengendalian jangka panjang: a. Populasi ulat bulu meningkat disebabkan oleh perubahan iklim, perubahan ekosistem, sehingga faktor pembatas baik abiotik maupun biotik tidak dapat menahan perkembangan populasi ulat, oleh karenanya kembalikan fungsi pembatas biotik seperti predator, parasitoid, pathogen serangga dengan cara memperbaiki faktor abiotik melalui reboisasi, tidak merusak hutan dan menghindari tanaman monokultur. b. Mengurangi penggunaan pestisida berspektrum luas yang dapat membunuh parasitoid, predator dan pathogen serangga. Kurangi perburuan burung-burung pemakan ulat seperti Jalak dan Prenjak. c. Melakukan monitoring secara konsisten melalui Dinas Pertanian/Penyuluhan dan instansi terkait d. Meningkatkan koordinasi dan saling tukar informasi terkait keberadaan ulat bulu dan upaya pengendaliannya e. Meningkatkan penelitian dasar di bidang Entomologi termasuk ulat bulu untuk identifikasi melaui penelitian taksonomi, morfologi, ekologi dan fisiologi serta diikuti penelitian terapan antara lain pengendalian melalui konsep pengendalian hama terpadu (PHT).
Ulat Bulu pada Tanaman Pangan
Serangan ulat bulu pada tanaman pangan tidak banyak dilaporkan, namun demikian kita harus juga mewaspadainya. Berikut ini adalah beberapa jenis ulat bulu yang biasa menyerang tanaman pangan seperti kedelai, kacang tanah, jagung, ubi jalar dan lain-lain (Tabel 1.).
Pada Tabel 1 terdapat jenis ulat bulu yang memiliki inang yang sama dengan pohon mangga yaitu Dasychira sp. Ulat ini bersifat polyfagus, sehingga banyak ditemukan pada tanaman lain selain mangga seperti kedelai, kacang tanah dan lain-lain. Panjang larva 3-5 cm, memiliki siklus hidup 4 minggu dan mampu bertelur 1 ekor ngengat betina sebanyak 300 butir. Lingkungan dengan kelembaban 65-70% dan temperatur siang hari 30-32oC dan malam hari 28 –29 oC merupakan kondisi yang optimal bagi perkembangan ulat (Syafril, 2011).
Untuk mengantisipasi serangan ulat bulu di pertanaman dapat dilakukan dengan cara monitoring keberadaan ngengat menggunakan light trap, kemudian dilanjutkan dengan memonitor kumpulan telur dari ulat dan lakukan pengendalian sesuai dengan kondisi serangan
Tabel 1. Jenis Ulat Bulu yang Menyerang Tanaman Mangga dan Tanaman Panga















Penutup
Ledakan hama ulat bulu di Jawa Timur dan serangan ulat bulu di daerah lainnya merupakan fenomena alam dimana terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Hal ini selain adanya perubahan iklim juga adanya campur tangan manusia yang menyebabkan berkurangnya musuh alami yang merupakan faktor pembatas biotik bagi ulat bulu. Upaya antisipasi dan penanggulangan seragan ulat bulu harus dilakukan secara bijaksana dengan meperhatikan keberlanjutan fungsi dari ekosistem sehingga tidak menimbulkan bencana lainnya.
Sosialisasi diperlukan bagi masyarakat luas terhadap fenomena ledakan ulat bulu yang bersifat edukatif sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan (fobia). Selain merugikan, ulat bulu ini dapat menguntungkan bagi tanaman untuk berbuah lebat pasca serangan. Sehingga ada berkah setelah bencana, tergantung bagaimana kita menyikapi alam ini dengan bijak.

LAST_UPDATED2
 

Success Story

Joomla Templates by JoomlaVision.com