Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
eproduk
Kalender Tanam

Video Inovasi

Video Lainnya

Waktu Banten

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday72
mod_vvisit_counterYesterday436
mod_vvisit_counterThis week2984
mod_vvisit_counterLast week3483
mod_vvisit_counterThis month13554
mod_vvisit_counterLast month14926
mod_vvisit_counterAll days368670


Potensi Pengembangan Sayuran Di Dataran Rendah PDF Cetak E-mail
Oleh Rika Jayanti Malik   
Selasa, 25 November 2014 10:55

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten menyelenggarakan seminar rutin pada 25 November 2014. Seminar yang dilaksanakan di aula lantai 2 BPTP Banten mengangkat tema "Potensi Pengembangan Sayuran Di Dataran Rendah" yang dihadiri 100 peserta dari SKPD provinsi//kabupaten/kota, penyuluh, petani dan kelompok wanita tani. Acara dibuka langsung oleh Kepala BPTP Banten, Dr. Muchamad Yusron, M.Phil. Dalam sambutannya, Kepala BPTP Banten menyampaikan bahwa seminar merupakan salah satu sarana yang dapat dijadikan ajang pengembangan sumberdaya manusia pertanian. Harapannya melalui seminar, informasi yang diperoleh bermanfaat khususnya bagi peserta (peneliti/penyuluh/teknisi) dan umunya untuk pengembangan sayuran di Provinsi Banten.

Narasumber seminar yaitu Dr. Bagus Kukuh Udiyarto (peneliti Balai Penelitian Sayuran) dan Eka Rastiyanto, SP (penyuluh BPTP Banten) serta moderator Silvia Yuniarti (peneliti BPTP Banten). Dr. Bagus memaparkan materi tentang peluang, permasalahan dan strategi pengembangan sayuran dataran rendah. Cakupan materi yang disampaikan meliputi:

  1. Peluang pengembangan agribisnis sayuran. Hasil pertanian khususnya sayuran merupakan bahan makanan yang banyak mensuplai vitamin bagi tubuh. Sayuran juga merupakan bahan baku obat sekaligus sebagai penyedap makanan. Aroma khas yang dimiliki membuat sayuran sebagai bahan pangan yang tak tergantikan. Produk sayuran termasuk komoditas import-eksport. Tercatat pada tahun 2012, Indonesia mengimpor beberapa jenis sayuran seperti kentang, bawang merah, bawang putih, cabai dan tomat. Kondisi inilah yang menjadi alasan bahwa peluang pengembangan sayuran masih terbuka sangat luas.
  2. Program yang dilaksanakan oleh Balitsa dan BPTP yaitu adanya Program Kawasan Agiribisnis Hortikultura. Rangkaian kegiatan yang dijalankan terdiri atas: integrasi inovasi untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah, dukungan inovasi dan pendampingan serta penentuan lokasi pendampingan yang bekerjasama dengan Dinas terkait di daerah.
  3. Potensi pengembangan sayuran didasarkan pada adanya varietas unggul baru yang telah dihasilkan oleh Balitbang Pertanian, Benih bermutu, Teknologi, Luas arel, kesuburan lahan, ketersedian air dan sumberdaya manusia. Provinsi Banten  memiliki beberapa hal tersebut sebagai wilayah pengembangan sayuran.
  4. Arahan ke depan yaitu produksi sayuran secara melimpah pada saat musim hujan. Selama ini, saat musim kemarau produksi sayuran melimpah mengakibatkan harga rendah, sedangkan di musim penghujan produksi yang rendah mengakibatkan harga yang melonjak tinggi. Rekomendasi bawang merah yang tahan pada musim penghujan yaitu varietas Bima, Maja, Trisula, Sembarni dan Pancasona.
  5. Sayuran mentimun, diperkenalkan varietas litsa hijau (hibrida) yang memiliki keunggulan yaitu ujungnya tidak pahit dan isinya padat.
  6. Peran strategis benih mendukung pengembangan sayuran yaitu benih mempresentasikan keunggulan genetik dan mampu digunakan sebagai batas atas produksi dalam usaha tani. Benih juga memiliki kandungan virus yang lebih rendah dibandingkan dengan umbi.
  7. Balitsa telah memiliki sistem manajamen mutu (SMM), sehingga dalam melakukan sertifikasi benih tidak lagi tergantuk terhadap pihak lain.
  8. Kelemahan bawang putih di Indonesia sama persis dengan bawang merah sumenep yaitu tidak bisa berbunga, sehingga dalam perbanyakan benihnya belum dapat dilakukan.
  9. Budidaya sayuran sebaiknya memperhatikan konsep ramah lingkungan, persemaian yang aman dari virus dan hama (dengan sungkup), pemberian vaksinasi sebagai pencegahan virus).
  10. Strategi pengembangan sayuran mengarah pada peningkatan volume (luas lahan) dan mutu produksi, kebijakan dan regulasi, persepsi dan promosi, penguatan riset dan penguatan sumberdaya manusia.
Narasumber kedua yaitu memaparkan tentang Budidaya Sayuran di Dataran Rendah. Lokasi yang dijadikan model yaitu kebun percobaan (KP) singamerta BPTP Banten. Budidaya sayuran khususnya tanaman kol bulat dan kembang kol meliputi:
  1. Persiapan media tanam yaitu menggunakan tanah dan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan perbandingan 1:1.
  2. Menggunakan persemaian berupa try.
  3. Pindah tanam saat bibit memiliki 4-6 helai daun.
  4. Jarak tanam 50 cm x 50 cm
  5. Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST).
  6. Pemupukan, menggunakan NPK-Mutiara saat tanaman 2 dan 4 minggu HST.
  7. Penyiraman dilakukan tergantung cuaca. Saat musim kemarau penyiraman dilakukan 2-3 kali dalam sehari.
  8. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), dan
  9. Panen, Kol Bulat panen saat umur 3 bulan HST dan bunga kol 2 bulan HST. Produksi bunga kol di bedengan lebih tinggi dibandingkan dalam polybag. Bunga Kol yang ditanam di bedengan mampu mencapai 0,8 - 1,2 Kg sedangkan yang ditanam di polybag hanya berkisar 0,4 -0,5 kg.
  10. Permasalahan yang dihadapai yaitu segmen pasar yang terbatas dan daya simpan produk yang rendah.
LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com