JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Pertanian Cegah COVID-19Video .......... Link

Optimalisasi Volume Semprot Pestisida dengan Mengukur Efisiensi Alat dan Kecepatan BerjalanKeberadaan hama dan penyakit pada tanaman seringkali menyebabkan kerugian dalam usaha tani seperti berkurangnya produksi dan berkurangnya kualitas hasil yang tentunya berpengaruh terhadap nilai jual produk.

Secara alamiah, hama dan penyakit akan selalu ada pada tanaman yang kita budidayakan. Untuk menghilangkan serangan tersebut adalah hal yang mustahil dilakukan di lahan. Tidak selalu keberadaan hama dan penyakit akan merugikan secara ekonomi apabila keseimbangan alam terjaga, yaitu dengan adanya musuh alami yang menjadi faktor pembatas berkembangnya populasi ataupun serangan hama dan penyakit tersebut.

Jika populasi atau intensitas serangan berada di bawah ambang pengendalian, maka upaya penanggulangannya tidak selalu harus menggunakan pestisida kimia sintetis.

 

Optimalisasi Volume Semprot Pestisida dengan Mengukur Efisiensi Alat dan Kecepatan BerjalanPengendalian lainnya seperti pengendalian fisik maupun pengendalian hayati menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah terhadap lingkungan.

 Namun, jika intensitas serangan telah melebihi ambang ekonomi, maka untuk menyelamatkan produksi harus dilakukan tindakan pengendalian menggunakan pestisida kimia sintetis.

Penggunaan pestisida kimia sintetis tentu saja harus dilakukan secara bijaksana agar efektif, efisien dan aman digunakan.

Penggunaan pestisida harus memenuhi 6 kriteria tepat yaitu: (1) tepat sasaran, (2) tepat jenis pestisida, (3) tepat dosis dan konsentrasi, (4) tepat cara aplikasi, (5) tepat waktu aplikasi, (6) dan tepat mutu.

Untuk memenuhi dosis yang tepat salah satu parameternya adalah jumlah volume semprot yang harus sesuai dengan rekomendasi.

Pada umumnya volume semprot yang dianjurkan adalah 500 liter/ha. Hasil kajian yang dilakukan BPTP Banten, sebagian besar petani di Banten hanya menggunakan separuh dari volume semprot rekomendasi. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap keefektifan pengendalian dan akan menimbulkan akibat yang merugikan lainnya seperti terjadinya resistensi (kekebalan hama atau patogen), resurgensi (meningkatnya populasi hama setelah aplikasi pestisida), dan secara ekonomi akan merugikan karena tindakan pengendalian harus diulang.

Upaya untuk mengoptimalkan volume semprot sesuai anjuran, hal yang harus diperhatikan adalah efisiensi alat semprot dan kecepatan berjalan bagi petani yang akan menyemprot pestisida.

Efisiensi alat diukur dari jumlah volume (liter) cairan yang dikeluarkan alat semprot per satuan waktu (menit).

Setiap alat memiliki efisiensi yang berbeda. Pada handsprayer pompa manual, setiap menit bisa mengeluarkan cairan sebanyak 1,6-1,8 liter/menit tergantung kondisi alat.

Pada handsprayer elektrik, memiliki efisiensi yang lebih besar yaitu lebih dari 2 liter/menit.

Sebelum mengukur efisiensi alat semprot, terlebih dahulu harus dilakukan pengaturan kepala nozel sampai cairan yang dikeluarkan berupa butiran halus dan berkabut, kemudian semprotkan ke dalam ember selama 1 menit dan mengukur volume air yang tertampung dalam ember.

Selanjutnya mengukur lebar jangkauan bidang yang terkena butiran semprot.

Setelah diperoleh angka-angka di atas, kemudian dimasukkan ke dalam rumus seperti contoh berikut:

Misalkan lahan yang akan disemprot seluas 4000 m2, maka volume semprot pestisida yang dibutuhkan adalah 200 liter. Selanjutnya hasil pengukuran efisiensi alat adalah 2 liter/menit dan lebar bidang semprot adalah 2 m, maka kecepatan berjalan yang dibutuhkan adalah 20 meter/menit. Artinya dalam 1 menit, tanaman yang disemprot sepanjang 20 meter dengan lebar jangkauan semprot 2 meter dan efisiensi alat yang digunakan 2 liter/menit.

Dengan diketahuinya patokan luas bidang semprot per meter persegi, diharapkan volume semprot yang direkomendasikan dapat terpenuhi secara optimal.

Catatan penting lainnya adalah perhatikan konsentrasi anjuran pestisida yang digunakan harus sesuai rekomendasi, misalnya anjuran yang tertera pada label adalah 2 ml/l artinya 2 ml pestisida per 1 liter air.

Materi di atas telah disosialisasikan dalam pertemuan kegiatan kerjasama BPTP Banten dengan Bank Indonesia pada petani binaan di Gapoktan Sukabungah Desa Tambakbaya Kec. Cibadak Kab. Lebak.

Perpustakaan BPTP Banten Tetap Produktif di Masa PandemiDi tengah pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat Petugas Perpustakaan BPTP Banten untuk terus produktif.

Meski dalam masa pemberlakuan PSBB di Provinsi Banten, Petugas Perpustakaan BPTP Banten yang terdiri dari Pustakawan dan petugas non fungsional tetap melakukan pelayanan pengunjung melalui media sosial (fb dan WA).

Pekan ini 21/09/2020, Perpustakaan BPTP Banten juga mendapat kunjungan dari Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) - Bogor.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan teknis pengelolaan perpustakaan kepada pustakawan dan petugas perpustakaan lainnya, dan juga untuk melakukan analisis kajian bibliometrik KTI peneliti BPTP Banten.

Tim kajian bibliometrik KTI terdiri dari Budi Pratiwi, S.Sos, Nana Sutarsyah, S.Sos, MP dan Dyah Artati, SE. Dan Tim pelaksana bimtek pengelolaan perpustakaan adalah Herwan Junaidi, S.Kom dan Rahman, S.Kom.

Kepala BPTP Banten Dr. Ismatul Hidayah, SP, MP menyambut baik kunjungan Tim dari PUSTAKA Bogor tersebut, dan mengharapkan agar para Tim tersebut memberikan semangat dan motivasi kepada petugas perpustakaan BPTP Banten untuk tetap produktif berkarya, dan untuk pengembangan karir ke depan.

Kunjungan Tim PUSTAKA Bogor dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan 3M (Menggunakan masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak).

Tim analisis kajian bibliometrik KTI peneliti selanjutnya melakukan koordinasi ke peneliti BPTP Banten guna mendapatkan data tambahan kebutuhan pengkajian.

Dan Tim Bimtek PUSTAKA Bogor memberikan pendampingan teknis kepada Petugas Perpustakan BPTP Banten dalam mengelola database perpustakaan dengan menggunakan aplikasi Inlislite.

Inlislite adalah aplikasi pengelolaan database baru yang dikembangkan oleh Pustaka Bogor bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) .

Database perpustakaan yang sebelumnya menggunakan aplikasi Winisis. Untuk itu, semua data yang tersimpan di aplikasi Winisis telah dimigrasi ke aplikasi Inlislite.

Aplikasi Inlislite dapat diakses secaa online, dan telah terintegrasi dengan semua perpustakaan Lingkup Kementerian Pertanian.

Melestarikan Kehidupan Mikroba “Si Mahkluk Halus” dalam TanahDi tengah pandemi Covid 19, tentunya tidak boleh menyurutkan upaya kami dalam penyebarluasan informasi teknologi pertanian. Untuk itu, harapan kita bersama semoga kami dan selalu sehat, tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga jarak, selalu memakai masker, dan rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari kerumunan.

Kali ini kita akan sedikit menyingkap rahasia kehidupan "makhluk halus" yang ada di dalam tanah. Wah..sepertinya seram ya, tetapi sesungguhnya tidak.

Makhluk halus yang dimaksud adalah mikroba, makhluk hidup yang berukuran sangat kecil dan sulit sekali dilihat dengan mata telanjang sehingga memerlukan alat untuk dapat melihatnya yaitu menggunakan mikroskop.

Mikroba ini terdiri dari banyak sekali golongan seperti nematoda (kelompok cacing dengan ukuran yang sangat kecil) jamur/cendawan, bakteri, virus, viroid dan fitoplasma. Mikroba ini tersebar di tanah, air dan udara.

Melestarikan Kehidupan Mikroba “Si Mahkluk Halus” dalam TanahSeringkali kita mendengar istilah tanah yang sehat dan tanah yang sakit. Mengapa dikatakan demikian? Bukankah tanah itu benda mati yang tidak dapat makan dan berkembang biak?

Rupanya kehidupan di dalam tanah termasuk mikroba yang ada di dalamnya yang sakit karena lingkungannya yang tidak mendukung kehidupan mereka sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi merana.

Tahukah berapa banyak mikroba yang hidup dan memberikan kehidupan di dalam tanah?

Menurut Gottlieb (1976), dalam 1 gram tanah yang berasal dari permukaan tanah itu terdiri dari populasi bakteri sebanyak 100 juta, Actynomycetes 10 juta, fungi/cendawan 1 juta, protozoa 100 ribu, Algae/ganggang 1000 dan nematoda 100-1000. Ternyata banyak sekali kehidupan disana, yang seringkali kita tidak menyadari keberadaannya.

Lantas apakah peran mereka itu bagi tanaman?

Sebagian besar mikroba tanah memiliki peran yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Hanya sebagian kecil saja yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman.

Akan tetapi jika populasi antara mikroba baik dengan mikroba jahat tidak seimbang, maka tanaman akan menjadi sakit.

Contoh bakteri baik di antaranya adalah dari kelompok Bacillus yang dapat berperan sebagai antagonis atau tentara bagi tanaman terhadap bakteri jahat yang menyerang tanaman seperti bakteri penyebab penyakit layu.

Contoh lainnya ada Rhizobacter yang membantu tanaman untuk memfiksasi atau mengikat nitrogen, juga ada bakteri kelompok lainnya seperti Actinomycetes yang mampu menguraikan fosfat yang terikat oleh logam sehingga dapat diserap oleh tanaman.

Selanjutnya ada juga bakteri Pseudomonas yang menghasilkan siderofor yaitu senyawa yang dapat mengikat besi, dimana besi ini diperlukan untuk pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap penyakit.

Itu masih bagian sangat kecil peran dari bakteri, belum lagi peran cendawan seperti Trichoderma yang banyak digunakan sebagai biopestisida maupun sebagai pupuk hayati.

Trichoderma hidup di dalam tanah dan sebagian ada juga yang bersifat endofitik (hidup di dalam jaringan tanaman).

Manfaat Trichoderma di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit layu, busuk akar, busuk pelepah dan lain-lain. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya manfaat dari mikroba tanah ini.

Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya bisa membayangkan betapa sibuknya kehidupan di dalam tanah yang menopang kehidupan akar untuk pertumbuhan tanaman yang tumbuh subur dan sehat dengan hasil yang melimpah. Karenanya, perlu sekali kita berupaya untuk terus melestarikan kehidupan mereka dengan menyediakan tempat hidup yang sesuai caranya adalah dengan memberikan bahan organik ke dalam tanah.

Bahan organik ini dapat berupa kompos dari sisa-sisa tanaman maupun dari kotoran ternak. Dengan adanya bahan organik ini dalam jumlah yang cukup, maka secara fisik dan kimia tanah akan menunjang kehidupan serta aktivitas mikroba tanah.

Selain itu, rotasi tanaman juga merupakan upaya untuk menjaga keragaman mikroba tanah karena setiap tanaman memiliki metabolit (senyawa yang dihasilkan oleh tanaman dalam proses metabolism) yang beragam dan memiliki kesesuaian dengan mikroba yang berbeda pula.

Upaya lainnya adalah melindungi permukaan tanah dengan tanaman penutup tanah dan mengurangi pengolahan lahan yang intensif dan penggunaan bahan kimia seperti pestisida.