JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Ekspose Produk Hasil Inovasi Teknologi Pertanian pada Acara Lepas Sambut Kepala BPTP Banten

Kegiatan Lepas Sambut Kepala BPTP Banten dimeriahkan dengan ekspose produk-produk hasil inovasi teknologi pertanian.  Para undangan yang hadir dapat menikmati ekspose tersebut sebelum memasuki aula tempat Acara Lepas Sambut karena produk-produk tersebut dan alat-alat mekanisasi pertanian dipajang di lobby BPTP Banten.  Penataan dilakukan se menarik mungkin sehingga para tamu undangan tertarik untuk melihatnya.  Para tamu undangan cukup antusias menyaksikan ekspose tersebut. 

Produk-produk hasil inovasi teknologi pertanian dan alat-alat yang ditampilkan adalah sebagai berikut:  

 

1. Cabai Keriting Varietas Kencana

Cabai keriting Varietas Kencana merupakan cabai keriting unggul baru yang dilepas pada tahun 2011 yang harus dikembangkan di berbagai sentra produksi cabai, karena mempunyai karakteristik yang menonjol seperti toleran terhadap genangan dan  berdaya hasil tinggi di atas 20 ton/ha. Introduksi cabai varietas Kencana diharapkan mampu memenuhi pasokan cabai sepanjang tahun untuk mengatasi gejolak harga cabai yang selalu terjadi terutama pada musim basah dan kemarau basah sehingga kebijakan swasembada cabai yang diinginkan dapat terpenuhi.

Varietas Kencana dapat ditanam pada berbagai ketinggian tempat, baik di dataran rendah (0–200 m dpl), medium (200–700 m dpl) sampai ke dataran tinggi (> 700 m dpl) dan pada berbagai tipe lahan (sawah - tegalan) tipe tanah mulai tanah Andisol sampai dengan tanah Gambut dengan berbagai  musim tanam (basah, kemarau basah, kering, dan ekstrim kering). Pada kondisi tersebut produktivitas dapat dicapai berkisar antara  15 – 23 ton/ha.

Asal   : Balai Penelitian Tanaman Sayuran 
Tinggi tanaman  : 112,6 – 125,6 cm
Diameter batang  : 1,5 – 1,8 cm 
Umur mulai berbunga   : 34 – 39 hari setelah tanam
Umur mulai panen  : 95 – 98 hari setelah tanam
Bentuk buah    : Memanjang
Ujung buah  : Runcing 
Ukuran buah  : Panjang 10,7 – 16,8 cm, lebar 0,7 – 0,8 cm
Warna buah muda   : Hijau
Warna buah tua   : Merah
Rasa buah  : Pedas
Berat 1000 biji  : 5,0 – 5,5 g
Berat per buah  : 4,4 – 6,4 g
Jumlah buah per tanaman  : 141 – 289 buah
Berat buah per tanaman   : 0,55 – 0,87 kg
Hasil buah per hektar   : 12,1 – 22,9 ton
Populasi per hektar  : 22.000 – 26.000 tanaman
Kebutuhan benih per hektar  : 110 – 180 g
Keunggulan varietas  : Produksi tinggi

 

2. Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan)

Sejak dilepas dengan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 274/Kpts/SR.120/2/2014, Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB-1) merupakan salah satu galur ayam hasil pemuliaan ayam kampung (Gallus-gallus domesticus) yang berasal dari daerah Cianjur, Depok, Majalengka, dan Bogor Provinsi Jawa Barat. Ayam KUB-1 ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain produksi telur tinggi, dan sebagian besar tidak mengeram.

Selain ternak ayam hidup, produk Ayam KUB yang ditampilkan adalah daging karkas dan telur Ayam KUB dari peternak binaan BPTP Banten.

3. Ayam Sensi -1 Agrinak

Ayam lokal pedaging unggul Sensi -1 Agrinak, singkatan dari Sentul terseleksi pertama, merupakan karya Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian yang dilepas dengan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 39/kpts/pk.020/1/2017 tanggal 20 Januari 2017. Ayam SenSi dapat dimanfaatkan sebagai ayam tetua (final stock) dan/atau sebagai ayam tetua (parent stock). Ayam SenSi memiliki keunggulan pada pertumbuhan berat badan ayam yang lebih cepat dibandingkan ayam kampung jenis lainnya, yaitu dapat mencapai berat 1 kilogram dalam waktu 10 minggu.

4. Telur itik lokal

Banten mempunyai potensi itik lokal penghasil telur. Itik lokal yang berkembang di Banten adalah Itik Damiaking dengan potensi produksi telur 200 butir/ekor/tahun, umur siap bertelur 5 bulan, dan lama produksi sekitar 2 tahun.  Teknologi yang telah diintroduksi oleh BPTP Banten terhadap produksi telur itik ini adalah teknologi pakan yang memungkinkan produksi telur memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari telur itik lainnya.

5. Tepung Cassava (ubi kayu)

Ubi kayu merupakan salah satu sumber karbohidrat, dan menduduki urutan ke-3 terbesar setelah padi & jagung. Sebagai upaya pemanfaatan maksimal, ubi kayu dapat diolah menjadi tepung dan digunakan sebagai bahan campuran tepung terigu untuk aneka produk olahan.

Ubi kayu segar mengandung senyawa glukosida sianogenik & bila terjadi oksidasi oleh enzim linamarse maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN) yang ditandai bercak warna biru, akan bersifat racun bila dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm. Ubi kayu segar juga mengandung senyawa polifenol, dan apabila terjadi oksidasi akan menyebabkan warna coklat, sehingga warna tepung kurang putih. Pencoklatan dapat dicegah dengan perendaman dalam larutan sodium bisulfit 0,02 % selama 15 menit

6. Tepung talas beneng

Pengelolaan talas menjadi tepung merupakan salah satu upaya untuk dapat memperluas pemanfaatannya. Dalam bentuk tepung, talas akan memiliki masa simpan yang panjang serta dapat diolah menjadi aneka produk dengan takaran yang lebih berstandar. Hanya saja, saat ini tepung Talas Beneng yang dihasilkan petani masih mempunyai kualitas yang kurang baik, diantaranya, warna tidak menarik (kecoklatan), aroma dan rasa yang kurang baik serta masih mengandung oksalat yang tinggi. Diduga senyawa oksalat dapat menyebabkan iritasi pada mulut dan tenggorokkan serta mengakibatkan rasa gatal ketika dikunyah. Oleh karena itu, introduksi teknologi yang dilakukan oleh BPTP Banten adalah melakukan perendaman dalam larutan garam 10% (NaCl) selama 2 jam untuk menurunkan kadar oksalat dalam umbi talas.Saat ini, Tepung Talas Beneng telah diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti keripik talas, mie Beneng yang dimodifikasi dengan daun kelor.

7. Varietas Unggul Baru (VUB) Padi

Unit Produksi Benih Sumber (UPBS) BPTP Banten menampilkan berbagai jenis benih Varietas Unggul Baru (VUB) Padi, yaitu Inpari 1 sampai dengan 32.  Selain itu, juga ditampilkan beras merah dan beras VUB dari kelompok tani binaan BPTP Banten.

8. Mesin perontok padi

Mesin perontok padi (power thresher) adalah alat perontok gabah. Perontokan merupakan bagian integral dari proses penanganan pasca panen padi, dimana padi yang telah layak dipanen dirontokkan untuk memisahkan bulir-bulir padi jeraminya. Prinsip kerja thresher ini adalah dengan memukul bagian tangkai padi (jerami) sehingga bulir-bulir terlepas

Manfaat & kelebihan alat perontok padi

  1. Mesin perontok padi terbukti dapat mengurangi kehilangan gabah saat perontokan dan mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga petani memperoleh nilai tambah dalam usaha taninya,
  2. Mobilitas tinggi (memudahkan untuk transportasi).

9. Caplak Jarwo

Caplak merupakan alat penggaris tanah dengan tujuan memudahkan dalam pembuatan garis di lahan sawah. Alat ini dioperasikan oleh operator yang menarik alat sehingga terbentuk garis tanam. Alat ini, terdiri dari dua bagian yaitu pembuat garis tanam dan penarik. Mekanisme pada alat adalah sebagai berikut yaitu bagian pembuat garis tanam diletakan di atas lahan sawah, kemudian alat ditarik dengan memegang pipa penarik dan berjalan ke arah menjauh dari bagian pembuat garis tanam. Caplak legowo dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan jarak tanam, antara lain (2:1), (4:1) atau tipe lainnya.

Keuntungan alat:

  1. Alat ini dapat dipisahkan menjadi 3 bagian, sehingga memudahkan dalam transportasi.
  2. Alat ini dapat dapat disesuaikan dengan keinginan/kebiasaan petani dalam menggunakan sistim tanam jajar legowo 2 : 1 atau 4 : 1.
  3. Dengan menggunakan alat ini dapat menghemat waktu dan tenaga kerja dalam membuat garis tanam, sebab hanya cukup sekali jalan saja dan sudah terbentuk garis tanam dengan ukuran yang seragam, yaitu 25 x 12,5 x 50 cm.
  4. Memudahkan para penanam dalam meletakkan bibit pada lubang tanam dengan jarak antar tanaman yang seragam.
  5. Biaya pembuatan cukup terjangkau.
  6. Mudah dalam perakitan dan penggunaannya