JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berkurban Tetap Aman di Era Pandemi Covid-19

Berkurban Tetap Aman di Era Pandemi Covid-19Umat Islam di dunia sebentar lagi akan merayakan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1441 H atau di Indonesia bertepatan tanggal 31 Juli 2020. Salah satu ibadah Umat Islam pada Hari Raya Idul Adha adalah berkurban atau memotong hewan kurban.

Dalam pelaksanaan Hari Raya Kurban, harus diperhatikan kesehatan hewan yang akan dikurbankan, proses penyembelihannya dan distribusi daging hewan kurban kepada mustahiq.

Persyaratan hewan sehat ini menjadi sangat penting mengingat banyak sekali penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

Pelaksanaan ibadah kurban tahun ini akan sedikit berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya karena adanya pandemi Covid-19.

Pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai hal ini yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114 tahun 2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban dan Surat Edaran (SE) Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nomor 0008 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban Dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam Corona Virus Disease (Covid-19).

Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban, penyelenggaraan kurban harus memperhatikan ketentuan teknis antara lain:

1) Persyaratan dan penanganan hewan kurban. Hewan kurban yang dijual dan akan dipotong harus memenuhi syarat syariat Islam yaitu sehat, tidak cacat, tidak kurus, berjenis kelamin jantan, tidak dikebiri memiliki buah zakar lengkap 2 buah simetris dan cukup umur/berganti gigi tetap (kambing/ domba umur >1tahun; sapi/ kerbau umur >2 tahun).

Penanganan hewan kurban harus memenuhi persyaratan alat angkut, tempat penjualan, tempat pemotongan dan fasilitas pemotongan hewan.

2) Persiapan Pemotongan Hewan Kurban, meliputi hewan kurban harus diistirahatkan lebih dari 12 jam dan dikelompokkan sesuai dengan jenis dan ukuran hewan, dan dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban oleh petugas.

3) Penyembelihan hewan kurban dan penanganan produknya. Penyembelihan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminansia (RPH-R) oleh juru sembelih halal (Juleha) yang memenuhi syarat beragama Islam dan sudah akil baliqh, memiliki keahlian dalam penyembelihan dan memahami tata cara penyembelihan secara syar’i.

Penanganan produk meliputi pemisahan daging dengan jeroan dalam wadah (bersih tidak mengandung toksik), pendistribusian produk tidak lebih dari 4 jam atau harus disimpan pada suhu dibawah 4oC atau dibekukan.

Sementara itu, Surat Edaran Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 008/SE/PK.320/F/06/2020 tanggal 8 Juni 2020 secara garis besar mengatur tentang upaya penyesuaian terhadap pelaksanaan kurban dalam kegiatan penjualan hewan kurban dan pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan-Ruminansia (RPH-R) maupun di luar RPH-R dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain:

1) Faktor jaga jarak fisik (physical distancing), jarak minimal antar pekerja yaitu 1 meter pada setiap aktivitas dengan memperhatikan kepadatan ruang kerja. Melakukan pembatasan di fasilitas pemotongan hewan kurban (hanya dihadiri oleh panitia).

2) Penerapan higiene personal, menggunakan alat pelindung diri/ APD (masker, faceshield, sarung tangan sekali pakai, apron dan sepatu kerja) dan pekerja tidak menyentuh mata, hidung, telinga dan mulut sewaktu bekerja.

3) Pemeriksaan kesehatan awal (screening), melakukan pengukuran suhu tubuh di setiap pintu masuk RPH dengan alat pengukur suhu non kontak oleh petugas dan setiap orang yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/ sesak nafas dilarang masuk ke RPH-R.

4) Penerapan hygiene sanitasi, meliputi melakukan pembersihan dan desinfeksi terhadap peralatan dan pekerja, membedakan antara petugas yang menyembelih dengan petugas yang menangani produk daging da jeroan secara terpisah.

Dengan memenuhi ketentuan teknis tersebut yakni dengan memperhatikan keselamatan manusia melalui protokol kesehatan, mewaspadai terjadinya penyakit zoonosis dan kesejahteraan hewan maka diharapkan daging kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat telah memenuhi persyaratan keamanan, kesehatan, keutuhan dan kehalalan (ASUH).