JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Melestarikan Kehidupan Mikroba “Si Mahkluk Halus” dalam Tanah

Melestarikan Kehidupan Mikroba “Si Mahkluk Halus” dalam TanahDi tengah pandemi Covid 19, tentunya tidak boleh menyurutkan upaya kami dalam penyebarluasan informasi teknologi pertanian. Untuk itu, harapan kita bersama semoga kami dan selalu sehat, tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga jarak, selalu memakai masker, dan rajin mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari kerumunan.

Kali ini kita akan sedikit menyingkap rahasia kehidupan "makhluk halus" yang ada di dalam tanah. Wah..sepertinya seram ya, tetapi sesungguhnya tidak.

Makhluk halus yang dimaksud adalah mikroba, makhluk hidup yang berukuran sangat kecil dan sulit sekali dilihat dengan mata telanjang sehingga memerlukan alat untuk dapat melihatnya yaitu menggunakan mikroskop.

Mikroba ini terdiri dari banyak sekali golongan seperti nematoda (kelompok cacing dengan ukuran yang sangat kecil) jamur/cendawan, bakteri, virus, viroid dan fitoplasma. Mikroba ini tersebar di tanah, air dan udara.

Melestarikan Kehidupan Mikroba “Si Mahkluk Halus” dalam TanahSeringkali kita mendengar istilah tanah yang sehat dan tanah yang sakit. Mengapa dikatakan demikian? Bukankah tanah itu benda mati yang tidak dapat makan dan berkembang biak?

Rupanya kehidupan di dalam tanah termasuk mikroba yang ada di dalamnya yang sakit karena lingkungannya yang tidak mendukung kehidupan mereka sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi merana.

Tahukah berapa banyak mikroba yang hidup dan memberikan kehidupan di dalam tanah?

Menurut Gottlieb (1976), dalam 1 gram tanah yang berasal dari permukaan tanah itu terdiri dari populasi bakteri sebanyak 100 juta, Actynomycetes 10 juta, fungi/cendawan 1 juta, protozoa 100 ribu, Algae/ganggang 1000 dan nematoda 100-1000. Ternyata banyak sekali kehidupan disana, yang seringkali kita tidak menyadari keberadaannya.

Lantas apakah peran mereka itu bagi tanaman?

Sebagian besar mikroba tanah memiliki peran yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Hanya sebagian kecil saja yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman.

Akan tetapi jika populasi antara mikroba baik dengan mikroba jahat tidak seimbang, maka tanaman akan menjadi sakit.

Contoh bakteri baik di antaranya adalah dari kelompok Bacillus yang dapat berperan sebagai antagonis atau tentara bagi tanaman terhadap bakteri jahat yang menyerang tanaman seperti bakteri penyebab penyakit layu.

Contoh lainnya ada Rhizobacter yang membantu tanaman untuk memfiksasi atau mengikat nitrogen, juga ada bakteri kelompok lainnya seperti Actinomycetes yang mampu menguraikan fosfat yang terikat oleh logam sehingga dapat diserap oleh tanaman.

Selanjutnya ada juga bakteri Pseudomonas yang menghasilkan siderofor yaitu senyawa yang dapat mengikat besi, dimana besi ini diperlukan untuk pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap penyakit.

Itu masih bagian sangat kecil peran dari bakteri, belum lagi peran cendawan seperti Trichoderma yang banyak digunakan sebagai biopestisida maupun sebagai pupuk hayati.

Trichoderma hidup di dalam tanah dan sebagian ada juga yang bersifat endofitik (hidup di dalam jaringan tanaman).

Manfaat Trichoderma di antaranya adalah untuk mengendalikan penyakit layu, busuk akar, busuk pelepah dan lain-lain. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya manfaat dari mikroba tanah ini.

Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya bisa membayangkan betapa sibuknya kehidupan di dalam tanah yang menopang kehidupan akar untuk pertumbuhan tanaman yang tumbuh subur dan sehat dengan hasil yang melimpah. Karenanya, perlu sekali kita berupaya untuk terus melestarikan kehidupan mereka dengan menyediakan tempat hidup yang sesuai caranya adalah dengan memberikan bahan organik ke dalam tanah.

Bahan organik ini dapat berupa kompos dari sisa-sisa tanaman maupun dari kotoran ternak. Dengan adanya bahan organik ini dalam jumlah yang cukup, maka secara fisik dan kimia tanah akan menunjang kehidupan serta aktivitas mikroba tanah.

Selain itu, rotasi tanaman juga merupakan upaya untuk menjaga keragaman mikroba tanah karena setiap tanaman memiliki metabolit (senyawa yang dihasilkan oleh tanaman dalam proses metabolism) yang beragam dan memiliki kesesuaian dengan mikroba yang berbeda pula.

Upaya lainnya adalah melindungi permukaan tanah dengan tanaman penutup tanah dan mengurangi pengolahan lahan yang intensif dan penggunaan bahan kimia seperti pestisida.