JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

Bupati Pandeglang Terima Kunjungan Kepala BPTP BantenDi sela-sela kesibukan sebagai Bupati Pandeglang, Hj. Irna Narulita, S.E.,M.M. menerima kunjungan rombongan BPTP Banten yang dipimpin oleh Kepala BPTP Banten Dr. Ismatul Hidayah, S.P.,M.P.

Bupati Pandeglang sangat mengapresiasi pendampingan BPTP Banten selama ini terhadap kegiatan pertanian di wilayah ini.

Turut serta dalam rombingan tersebut adalah Kasie KSPP BPTP Banten ST. Rukmini, SP, M.Si, Koordinator Program Dr. Andy Saryoko, S.P.,M.P., dan penelii SDG Zuraida Yursak, S.P.,M.Si dengan membawa serta petani pemilik pohon induk dan penangkar varietas lokal Pandeglang, yaitu: Bapak Akwang (Pemilik Alpukat Chengko dari Kecamatan Majasari), Bapak Ashari (Pemilik Durian Sicayut dari Kecamatan Majasari) dan Bapak Samuti (Pemilik Petai Simanis dari Kecamatan Kaduhejo), serta Bapak Kartawijaya (Penangkar Petai Simanis) dan Bapak Andri (Pengembang Alpukat Chengko).

Dalam acara tersebut, turut hadir Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang H. Budi Djanuardi, SP, MM, Kabid. Hortikultura, Kabid. Tanaman Pangan, penyuluh yang aktif mengembangkan Talas Beneng beserta staf Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang.

Bupati Pandeglang Terima Kunjungan Kepala BPTP BantenTerdapat 3 hal pokok yang menjadi maksud dari kunjungan ini, yaitu Kepala BPTP Banten melakukan penyerahan ke Bupati Pandeglang berupa: 1) produk Eucalyptus dalam bentuk kalung aromatherapy, roll on dan inhaler sebagai upaya pencegahan corona, 2) Buku 600 Teknologi Inovatif Badan Litbang Pertanian, dan 3) Sertifikat Tanda Daftar Varietas Lokal berupa Durian Sicayut, Petai Simanis, dan Alpukat Chengko.

Terkait dengan Talas Beneng yang merupakan varietas lokal komoditas ekspor Pandeglang, Kepala BPTP Banten menyampaikan bahwa saat ini sedang menunggu SK Pelepasan Varietas tersebut.

Bupati Pandeglang menyampaikan terima kasih atas produk eucalyptus yang diberikan dan menyatakan kesukaannya akan fungsi produk tersebut untuk pencegahan Corona. Bupati Pandeglang juga menyampaikan terima kasih atas buku yang diserahkan karena menurutnya buku tersebut sangat bermanfaat bagi pertanian Kabupaten Pandeglang.

Bupati juga mengapresiasi upaya BPTP Banten dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendaftaran varietas lokal Pandeglang. Dan berharap semoga prosesnya lancar sehingga dapat dilepas sebagai varietas lokal Pandeglang.

Kadistan Pandeglang menyampaikan bahwa terhadap Talas Beneng, hal utama yang akan dilakukan saat ini adalah perluasan pengembangan budidaya karena kuota ekspor yang tersedia saat ini belum dapat terpenuhi semua. Kuota masih tersedia banyak.

Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari semua pihak. BPTP Banten akan turut membantu pendampingan budidaya terkait perluasan areal penanaman Talas Beneng. Bupati menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung pengembangan dan peluasan areal penanaman komoditas tersebut.

Talas Beneng sangat menguntungkan karena baik daun dan umbinya menjadi komoditas ekspor dengan nilai jual yang cukup menggairahkan. Umbi Talas Beneng telah diekspor ke Negara Belanda. Dan akan diperluas ke negara lainnya. Sementara itu, daun Talas Beneng telah diekspor ke Australia. Konon kabarnya, di Negeri Kanguru tersebut, daun Talas Beneng dijadikan sebagai bahan rokok herbal.

Top Working Upaya Perbaikan Kualitas Tanaman DurianBulan Februari tahun ini, kami sudah pernah memposting tentang Top Working khususnya pada tanaman durian.

Namun, teknologi ini perlu kami ulas kembali karena sangat penting dilakukan untuk memperbaiki kualitas tanaman.

Umumnya tanaman yang mendapat perlakuan Top Working merupakan jenis tanaman dengan varietas yang tidak jelas dan memiliki kualitas serta produktivitas yang rendah sehingga perlu diganti dengan jenis dan varietas unggul yang memiliki kualitas dan produktivitas yang baik.

Top working tanaman dilakukan dengan cara mengganti varietas suatu tanaman yang ada dengan varietas baru tanpa harus mematikan tanaman tersebut.

Teknik perbaikan dilakukan dengan cara okulasi, sambung pucuk/tunas, tempel, sambung samping dengan menggunakan entres yang berasal dari tanaman induk yang sehat dan berasal dari varietas unggul yang memiliki kualitas dan produktivitas yang tinggi serta disukai masyarakat.

Top Working Upaya Perbaikan Kualitas Tanaman DurianDalam upaya memperbaiki kualitas dan produksi durian, Dinas Pertanian Provinsi Banten telah melaksanakan Kegiatan Top Working tanaman durian secara marathon pada Bulan Agustus 2020.

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pertanian Provinsi Banten menggandeng BPTP Banten yang diwakili oleh Kartono, SP, M.Si (Penyuluh Madya) dan Ahmad Fauzan, SP (Penyuluh Muda) untuk melakukan pendampingan teknologi Top Working.

Sasaran Top Working adalah tanaman durian di lahan petani yang tumbuh secara alami dan berasal dari jenis dan varietas tidak jelas.

Kelompok Tani sasaran kegiatan Top Working adalah Poktan Tunas Mandiri, Desa Sasahan, Kecamatan Waringinkurung dan Poktan Karya Tunas Mandiri di Desa Curug Sulanjana, Kecamatan Gunungsari Kabupaten Serang. Selain itu, juga dilakukan di Kabupaten Lebak pada tanaman milik anggota Poktan Bokor Kencana, Kecamatan Gunung Kencana, dan Poktan Super Farm, Kecamatan Cikulur.

Entres yang digunakan adalah entres dari varietas Si Seupah yang telah terkenal di Banten sebagai salah satu pemenang dalam kontes durian beberapa tahun silam.

Beneng Si Talas Raksasa dari BantenTidak harus nasi, talas menjadi salah satu solusinya. Talas dapat dijadikan bahan pengganti nasi karena merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial (90%).

Banten menjadi salah satu produsen talas di Indonesia. Talas Banten yang terkenal adalah Talas Beneng (Besar dan Koneng) yang berasal dari wilayah Kabupaten Pandeglang.

Talas Beneng adalah talas lokal khas yang tumbuh subur dan liar di sekitar Gunung Karang, Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut Kecamatan Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang. Masyarakat setempat telah mengenal dan memanfaatkan umbi Talas Beneng menjadi berbagai olahan pangan. Bahkan, kini daunnya juga telah bernilai ekonomi yang cukup menggiurkan.

Saat ini, Talas Beneng telah dibudidayakan dan telah berkembang ke-11 kecamatan, di antaranya Kecamatan Jiput, Kecamatan Cisata, Kecamatan Mandalawangi, dan Kecamatan Pandeglang.

Potensi produksi Talas Beneng sangat bergantung pada faktor lingkungan berupa tingkat kesuburan lahan dan ketersediaan air, dan cara budidaya petani. Cara budidaya tanaman meliputi aplikasi pemupukan, jarak tanam yang digunakan, sumber/asal benih, dan pemeliharaan tanaman.

Jarak tanam sangat berpengaruh pada produktivitas. Jarak tanam yang digunakan umumnya berkaitan dengan pola tanam. Umumnya, masyarakat menggunakan pola tumpang sari, Talas Beneng ditanam dalam kebun campuran atau di bawah tegakan sehingga jarak tanam mengikuti pola populasi yang ada. Untuk pola tanam monokultur, umumnya menggunakan jarak tanam 1 x 1 m.

Populasi tanaman dengan monokultur pada setiap 10.000 m2 berkisar antara 600-1000 tanaman.

Untuk benih yang digunakan, akan bervariasi pertumbuhannya bergantung asal benihnya. Benih yang berasal dari bonggol sisa panen umumnya akan lebih cepat tumbuh dan berumbi dibandingkan dengan benih yang berasal dari anakan.

Panen akan dilakukan saat Talas Beneng berumur sekitar 8-12 bulan, umbi bonggol akan mencapai hasil 2 - 3 kg per tanaman, jauh lebih berat/besar daripada yang berasal dari anakan yang berkisar sekitar 0.7 - 1 kg per tanaman.

Eucalyptus Untuk Pencegahan Corona Dibagikan Kepada Pegawai BPTP BantenPandemi Covid-19 yang melanda negeri ini, membuat setiap orang berupaya melakukan pencegahan agar terhindar dari paparan virus tersebut dan agar tidak meluas penyebarannya.

Sebagai ikhtiar upaya pencegahan Covid-19, BPTP Banten telah membagikan produk Eucalyptus kepada seluruh pegawai. Setiap pegawai mendapatkan produk Eucalyptus berupa roll on dan inhaler.

Eucalyptus merupakan produk aromatherapy hasil karya peneliti Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Sebelum dilanching dan beredar luas ke masyarakat, Eucalyptol telah diuji di laboratorium secara invitro, dan molekuler docking, di mana laboratorium ini sdh mempunyai sertifikat Biosavety Level 3 (BSL3).

Berdasarkan keterangan peneliti Badan Litbang Pertanian, Dr. Drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si, Eucalyptol telah diujikan terhadap beberapa tipe corona virus seperti Avian influenza/H5N1, beta Corona, dan Gamma Corona. Perlu diketahui bahwa Covid-19 (SARSCov-2) termasuk dalam beta corona virus.

Hasilnya menunjukkan bahwa eucalyptol bisa membunuh 80~100%. Mekanismenya, eucalyptol mengikat Main Protease (Mpro) pada virus yang berfungsi untuk mereplikasi diri (red: berkembang biak). Eucalyptol juga dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang berada di saluran pernafasan.

Badan Litbang Pertanian juga telah melakukan penelitian end product berbasis Eucalyptus di atas dengan nano teknologi. Hasilnya telah diwujudkan dalam beberapa varian produk yaitu inhaler, roll on, balsem, dan kalung Eucalyptus. Saat ini, yang telah mendapatkan ijin edar di pasaran adalah produk inhaler dan roll on.

Produk tersebut kini telah tersedia banyak di toko-toko online.

Penyerahan Produk Berbahan Eucalyptus di Kota SerangPenyerahan Produk Berbahan Eucalyptus di Kota Serang dilaksanakan di kantor walikota, diserahkan oleh Kasie KSPP BPTP Banten, ST. Rukmini, S.P.,M.Si dan diterima langsung oleh Walikota Serang, H. Syafrudin, S.Sos.,M.Si.

Produk Eucalytus yang diserahkan dalam bentuk kalung aromatheraphy langsung digantungkan di pundak walikota, sementara produk lainnya yang ikut diserahkan berupa Buku 600 Teknologi Inovatif Pertanian Balitbangtan langsung diteliti dengan seksama.

ST Rukmini berkesempatan menerangkan secara singkat tentang Kalung Eucalyptus dan Buku 600 Teknologi Inovatif Pertanian Balitbangtan, sedangkan Walikota Serang mengakhiri dengan harapan semoga bermanfaat bagi masyarakat Kota Serang serta ucapan terima kasih.

VIDEO ..........