JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual

BPTP Banten Hasilkan Paket Teknologi Budidaya Jagung Spesifik Lokasi pada Lahan Sub Optimal Tahun ini, BPTP Banten melalui kegiatan Kajian Budidaya Jagung pada Lahan Sub Optimal melakukan kajian dan implementasi paket teknologi budidaya jagung pada lahan kering seluas 2 ha yang berlokasi di Desa Citalahab Kec. Banjar Kab. Pandeglang, tepatnya di lokasi Poktan Karya Tani.

Tujuan kegiatan tersebut adalah menghasilkan paket teknologi budidaya jagung spesifik lokasi pada lahan kering sub optimal.

Sarana dan prasarana yang tersedia cukup mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan. Di lokasi telah terdapat gudang penyimpanan, mesin pengering, traktor roda empat, dan mesin pemipil jagung.

Berdasarkan hasil identifikasi oleh Tim Kajian Jagung BPTP Banten terhadap permasalahan di lapangan, diketahui bahwa permasalahan utama adalah masih rendahnya tingkat produktivitas yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan keterampilan petani setempat dalam budidaya jagung. Sementara itu, di wilayah tersebut terdapat potensi lahan yang cukup luas untuk pengembangan jagung.

Lebih lanjut, sarana penunjang seperti alat pengering, gudang penyimpanan serta alat mesin pertanian lainnya juga menjadi faktor penunjang pengembangan jagung di wilayah ini.

Atas dasar permasalahan dan potensinya, Tim Kajian Jagung BPTP Banten yang dipimpin oleh Dr. Andy Saryoko, SP, MP merancang paket teknologi dengan mengkombinasikan berbagai komponen teknologi, serta menginplementasikannya. Sejalan dengan hal tersebut, plot-plot penelitian juga dirancang untuk mempertajam paket teknologi yang dirancang.

Paket teknologi yang dirancang dan diterapkan antara lain, pengaturan populasi tanaman melalui penggunaan sistem tanam double row, penggunaan varietas unggul adaptif berdaya hasil tinggi, peningkatan kualitas tanah dengan penambahan bahan organik, dan pengolahan tanah sempurna, pemupukan spesifik lokasi berdasarkan status hara tanah (4 tepat: jenis, waktu, dosis, cara), dan pengendalian OPT.

Sistem tanam double row dengan jarak tanam 25 x 25 x 90 cm dengan dua butir per lubang mampu meningkatkan 20% populasi tanaman jika dibandingkan dengan cara konvensional petani. Selain itu, melalui sistem tanam ini akan mempermudah pemupukan karena pupuk diberikan di antara barisan tanaman.

Varietas jagung yang digunakan di lokasi terdiri dari 5 varietas, antara lain NK 212, P21, BISI 2, BISI 18 dan BIMA URI 14 yang merupakan varietas Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Sinergisme dengan pemerintah daerah melalui kegiatan inipun terjalin. Kegiatan kajian oleh tim BPTP Banten berdampingan dengan demfarm Dinas Pertanian Provinsi Banten. Rancangan paket teknologi yang telah dibuat terdifusi dan diadopsi pada demfarm seluas 10 ha tersebut.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa melalui penerapan teknologi melalui pengaturan populasi tanaman menggunakan sistem tanam double row yang dikombinasikan dengan berbagai komponen teknologi lainnya terwujud peningkatan produksi hampir 2 kali lipat. Hasil ubinan menunjukkan tingkat produksi sebesar 8-9 ton/ha pipilan kering pada kadar air 14 %. Sementara itu, rata-rata produksi jagung sebelumnya pada lahan tersebut hanya berkisar 3-5 ton per ha pipilan kering.

H. Iing Ketua Poktan Karya Tani mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas hasil yang diperoleh. "Kami mengucapkan terima kasih atas kajian yang dilakukan BPTP Banten karena hasilnya sangat bagus bagi kami" ucap H. Iing di sela-sela panen jagung miliknya.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kab. Pandeglang yang juga ikut menyaksikan kegiatan panen saat itu menyampaikan optimismenya hasil panen yang baik akan diperoleh petani dengan adanya penerapan teknologi dan pendampingan yang dilakukan BPTP Banten. "Alhamdulillah produksi jagung dari demplot kajian BPTP Banten memperoleh perkiraan hasil hampir sekitar 10 ton/ha, dan petani mengakui baru mengetahui cara budidaya jagung yang sebenarnya melalui pendampingan BPTP Banten" jelas Iping.

Dadan Firdaus, Kasie Produksi Dinas Pertanian Provinsi Banten menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan demfarm jagung di lokasi tersebut adalah untuk mendorong peningkatan produksi dan produktivitas jagung di Provinsi Banten. "Harapannya adalah produktivitas jagung semakin meningkat, petani semakin semangat menanam jagung dengan harga yang stabil di pasaran" jelas Dadan.

Setelah panen usai nanti, Tim Kajian bersama petani dan penyuluh setempat secara bersama-sama akan merumuskan: varietas yang paling adaptif di lokasi, serta merancang waktu tanam yang tepat, serta menyempurnakan paket teknologi yang telah dibuat.

Lebih lanjut, Tim Kajian Jagung BPTP Banten merekomendasikan penggunaan alat dan penerapan mekanisasi pertanian seperti alat penyiang (cultivator weeder) untuk meningkatkan efisiensi serta peningkatan hasil dalam budidaya jagung untuk skala yang lebih luas.

Terkait pemasaran, petani menyampaikan bahwa selama ini hasil panen mereka ditampung oleh sebuah perusahaan di Bogor, namun dengan harga yang masih fluktuatif. Untuk itu, dibutuhkan perhatian instansi terkait untuk mendorong pemasaran jagung menjadi lebih bergairah.

Ice Breaker Menghadirkan Suasana Segar dalam Pelatihan PetaniSiapa yang tidak senang jika diajak rileks dalam sebuah pelatihan?

Kadang kala pelatihan untuk petani dihantarkan secara membosankan, membuat jenuh dan monoton, apalagi bila waktunya pada saat jam istirahat siang. Peserta kurang berkonsentrasi, akibatnya informasi yang disampaikan kurang dapat ditangkap oleh peserta. Sayang banget kan, materi teknologi yang sudah tersusun rapi jadi tidak "terekam" dengan baik oleh peserta.

Berdasarkan hal-hal tersebut, seorang pemateri atau pelatih perlu melakukan Ice Breaker.

Apakah Ice Breaker itu?

Ice breaker adalah peralihan suasana dari situasi yang menjenuhkan, bosan, tegang dan seringkali membuat mengantuk menjadi suasana yang terasa segar, bersemangat, rileks, dan ada perasaan senang mengikuti materi. Bahkan dalam sebuah literatur, ice breaker disebut sebagai energizer untuk membangkitkan gairah peserta pelatihan.

BPTP Banten dalam melakukan penyuluhan, pelatihan, seminar bahkan webinar seringkali menyelipkan ice breaker di sela-sela acara.

Jumat (07/08/2020) pekan lalu, dalam pelatihan bagi petani pengelola demfarm padi 10 ha kerjasama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Banten, BPTP Banten yang diwakili oleh Sri Kurniawati, SP, M.Si mengajak para peserta melakukan ice breaker.

Ice breaker dilakukan di sela-sela pemberian materi I dan II, apalagi pelatihan dilakukan di siang hari setelah Sholat Jumat. Suasana cuaca panas dan sangat mungkin peserta lesu karena waktu istirahat siang.

Peserta diminta melakukan yel-yel dan juga mempraktekkan gerakan untuk kata "marina", "menari", dan "menara". Kata-kata tersebut hanya diulang sekitar 3 kali, tidak menyita waktu yang banyak. Setelahnya, tampak peserta cukup rileks dan bersemangat untuk melanjutkan materi.

 

VIDEO .......... Link

Poktan Tunas Berkah Siap Sukses dalam Beternak Ayam KUB dan SenSiAdalah Asep Saipudin alias Kang Asep, pemuda kelahiran Pandeglang 45 tahun yang lalu adalah profil pemuda daerah yang kini menapaki jalan sukses dalam beternak ayam bersama kelompoknya, Poktan Tunas Berkah di kampungnya.

Saat ini, Kang Asep yang berdomisili di Kp. Sukamanah, Desa Sukamanah, Kabupaten Pandeglang merupakan Ketua Kelompok Tani Tunas Berkah.

Aktivitasnya sebagai peternak berawal pada tahun 2017 dimana Kang Asep mulai beternak ayam ras petelur sebanyak 300 ekor yang dirawatnya mulai dari anak ayam (DOC) dan mulai menghasilkan telur dan menjualnya pada Maret 2018. Kegiatan ini ia lakukan di tengah aktivitasnya sebagai petani hortikultura dan peternak itik.

Telur ayam yang dihasilkannya dijual di sekitar Desa Sukamanah dan ayam afkirnya dijual ke Serang. Untuk menunjang usaha ternak ayam, diawal kegiatan produksinya ia sudah tergabung dalam komunitas Peternak Ayam Petelur Indonesia. Hal ini ia lakukan untuk mencari informasi terkait bibit sampai dengan pemasaran produk hasil unggas.

Saat ini, Kang Asep berencana untuk meningkatkan usaha ternak ayam petelurnya karena prospeknya cukup menjanjikan, peluang untuk meningkatkan skala usaha cukup terbuka dan pemasaran telur ayam sangat mudah.

Kemampuannya dalam beternak ayam ras petelur ini tidak terlepas dari pengalamannya dalam teknis budidaya ayam yang telah dikuasainya.

Satu hal yang menjadi kendala dalam usahanya adalah tingginya harga pakan komersil yang selalu mengalami kenaikan harga di setiap periodenya dan masih tergantungnya penyediaan bibit DOC pada perusahaan pembibit.

Pada awal tahun ini, Poktan Tunas Berkah di bawah kepemimpinan Kang Asep menerima kepercayaan untuk mengelola dan mendampingi kegiatan pengembangan ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dan Sentul Terseleksi (SenSi) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Balitbangtan) merupakan ayam kampung hasil seleksi genetik yang memiliki keunggulan antara lain: 1) mampu bertelur hingga mencapai 160-180 butir/ekor/tahun, 2) masa mengeram berkurang hingga tinggal 10% sehingga ayam cepat bertelur kembali, 3) ayam ini dapat tumbuh lebih cepat daripada ayam kampung biasa, 4) rasa daging ayam KUB gurih, sebagaimana ayam kampung pada umumnya.

Ayam SenSi atau Sensi-1 Agrinak juga merupakan hasil karya Badan Litbang Pertanian. Ayam SenSi merupakan salah satu galur murni (pure line) ayam lokal pedaging unggul. Dapat dimanfaatkan sebagai ayam niaga (final stock) atau ayam tetua (parent stock). Keunggulan ayam sensi-1 agrinak yakni dapat mencapai bobot 1 kilogram dalam waktu 10 minggu.

BPTP Banten memilih kelompok tersebut sebagai peternak kooperator didasarkan pada pengalaman anggotanya khususnya Kang Asep dalam memelihara ternak ayam, kemampuan dalam mengorganisasi, keinginan untuk memajukan anggota kelompok/ masyarakat lewat usaha, mampu menumbuhkan kegiatan secara partisipatif dan swadaya bersama anggotanya.

Kegiatan dari BPTP Banten dilaksanakan melalui pola inti-plasma. Kang Asep sebagai peternak inti bertanggungjawab untuk menghasilkan bibit ayam (DOC) KUB-SenSi yang selanjutnya DOC tersebut dikembangkan atau disebarkan pada peternak plasma di sekitarnya.

Dalam kegiatan ini, Poktan Tunas Berkah dibekali dengan bibit ayam KUB betina sebanyak 150 ekor dan bibit ayam SenSi sebanyak 30 ekor. Selain itu, juga dibekali dengan sarana produksi lainnya seperti pakan, perlengkapan kandang, obat dan vaksin.

Sementara ini, Kang Asep selaku pengelola bertanggungjawab menyediakan DOC kepada 2 (dua) orang peternak plasmanya yang telah ditunjuk. Hingga saat ini bibit ayam KUB-SenSi yang dipelihara sudah berumur 3 bulan dan diperkirakan akan mulai menghasilkan telur 2-3 bulan kemudian.

Selanjutnya peternak plasma yang didampinginya sudah menghasilkan ayam kampung potong sebanyak 400 ekor dengan rataan bobot panen sebesar 944, 38 gr/ekor pada umur panen 12 minggu dengan harga jual Rp.45.000/kg ayam hidup. Hasil ini cukup menggembirakan pada usaha tahap pertama budidaya ayam kampung ini.

Atas keberhasilan tersebut, Kang Asep dan peternak plasmanya berkeinginan untuk meningkatkan skala usahanya. Kang Asep menyadari bahwa untuk menjamin keberlangsungan usaha ternak ayam kampung ini, pihaknya harus mampu menghasilkan DOC dan mampu menjual atau menyebarkannya pada peternak plasma.

Berdasarkan hal tersebut, Kang Asep menargetkan minimal bisa memiliki 500 ekor induk ayam KUB-SenSi sebagai pembibit dan 1.000 ekor ayam kampung potong bagi setiap peternak plasmanya.

Berdasarkan pengalamannya dalam budidaya ayam (ayam ras petelur dan ayam kampung), maka bagi peternak pemula yang berminat untuk memulai usahanya disarankan untuk dapat menguasai terlebih dahulu teknis budidaya ayam yang baik dan dapat membangun hubungan baik semua pihak. Dengan demikian diharapkan usaha ternak ayam yang akan dijalani akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Aamiin.

Pengembangan Pertanian di Kawasan Wisata Citorek Gunung KendengBagi penduduk Banten, siapa yang tak pernah mendengar nama Citorek di  Lebak? Beberapa waktu lalu, jauh sebelum Corona menjadi pandemi, wilayah itu mendadak viral sebagai "Negeri di Atas Awan". Betapa tidak, pengunjung bisa menikmati pemandangan awan yang khas yang terlihat dari ketinggian Gunung Luhur dengan ketinggian berkisar 901 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Namun, kini masyarakat kembali terinfo bahwa indahnya Citorek tidak hanya ada di Gunung Luhur. Pemandangan yang sama indahnya bisa dinikmati dari Gunung Kendeng yang terletak di Desa Citorek Timur, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten.

 

Pengembangan Pertanian di Kawasan Wisata Citorek Gunung KendengSebagai bagian dari pengembangan pertanian di lokasi wisata Citorek, Dinas Pertanian Provinsi Banten menyelenggarakan pertemuan Kegiatan Pembinaan Kawasan Hortikultura pada beberapa pekan lalu di kawasan Pegunungan Kendeng Desa Citorek Timur tersebut.

Pada pertemuan tersebut, Siti Maryam, S.P.,M.Si Kasie Pasca Panen dan Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Banten menuturkan bahwa pertemuan ini sebagai pembekalan bagi para petani untuk mengembangkan Pertanian di daerah wisata seperti di Desa Citorek Timur ini.

BPTP Banten yang diwakili oleh Kartono, S.P.,M.Si (Penyuluh) menyampaikan materi Penerapan Teknologi Budidaya Hortikultura Mendukung Daerah Wisata.

Materi antara lain mengupas seputar pemanfaatan lahan pekarangan warga untuk ditanami sayuran yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di samping fungsinya untuk memberi keindahan dan suasana hijau. Sayuran tersebut antara lain sawi, caisim, katuk, dan lain-lain, juga jenis buah-buahan. Di dalam materi, tak lupa disampaikan bagaimana menyiapkan dan membuat media tanam yang baik.

Para peserta berasal dari Kelompok Tani Pegunungan Kendeng. Peserta sangat antusias menyimak materi dan bersemangat mengajukan pertanyaan seputar permasalahan tanaman hortikultura.

Sebagai penutup acara, dilakukan kunjungan ke spot wisata Pegunungan Kendeng yang sedang ditata pertanamannya. Di lokasi tersebut, peserta diberi kesempatan berdiskusi kembali seputar perkembangan tanaman yang ada di sekitar lokasi.

Pemupukan yang Efektif dan Efisien untuk Tanaman PadiSalah satu kegiatan kerjasama yang dilakukan BPTP Banten tahun ini adalah pelaksanaan Demfarm Padi seluas 10 ha di lahan Gapoktan Sukabungah Desa Tambakbaya Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak yang merupakan kerjasama Bank Indonesia Kantor Perwakilan Banten dengan BPTP Banten.

Secara rutin, BPTP Banten melakukan pendampingan pada lokasi Demfarm melalui pertemuan sosialisasi teknologi terkait dan pendampingan langsung di lapangan dengan para anggota gapoktan.

Pada pertemuan ke-4, salah satu materi yang disampaikan BPTP Banten adalah tentang Teknologi Pemupukan yang dihantarkan oleh Dr. Andy Saryoko, SP, MP (Peneliti)

Catatan penting dari materi pemupukan tersebut diantaranya adalah agar pemupukan efektif dan efisien harus sesuai dosis rekomendasi dan dilakukan pada waktu dan cara yang tepat.

Dosis rekomendasi pemupukan dapat dilihat pada aplikasi Kalender Tanam (KATAM) atau dapat ditanyakan pada petugas penyuluh pertanian setempat.

Jika memiliki Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) akan lebih akurat untuk menentukan dosis pemupukan karena spesifik pada lahan yang digunakan.

Tujuan pemupukan adalah menambahkan sejumlah hara dari yang tersedia di tanah dengan memberikan pupuk agar kebutuhan nutrisi tanaman terpenuhi.

Pemupukan berimbang diperlukan oleh tanaman agar proses fisiologi dan metabolism berjalan dengan baik. Keseimbangan atara unsur nitrogen , phospat (P) dan Kalium (K) sebagai unsur makro mutlak diperlukan.

Kelebihan pemupukan N seperti terkandung pada urea akan berakibat tanaman menjadi lebih herbaceous (lunak berair), hal ini akan membuat tanaman lebih peka/rentan terhadap hama dan penyakit. Selain itu, kelebihan N akan memicu tanaman menyusun senyawa protein yang diperlukan oleh hama dan penyakit.

Selanjutnya, dosis pemupukan yang tepat tidaklah cukup membuat tanaman tumbuh dengan optimal. Waktu yang tepat untuk pemupukan memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Jika terjadi keterlambatan dalam pemupukan, maka manfaat dari pupuk tersebut tidak dapat digunakan dengan baik oleh tanaman.

Pemupukan yang Efektif dan Efisien untuk Tanaman PadiWaktu pemupukan pada tanaman padi adalah pemupukan ke-1 umur 7-10 HST terdiri dari 37,5-40% pupuk urea dan 50% NPK dari rekomendasi pemupukan setempat.

Pemupukan ke-2 dilakukan pada umur 21-25 HST dengan dosis dan komposisi pemupukan seperti pada pemupukan pertama.

Pemupukan ke-3 dilakukan pada umur 30-35 HST jika diperlukan yaitu jika warna daun kurang hijau dipupuk dengan sisa urea yaitu 20-25% dari dosis rekomendasi.