JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Alsin

Teknologi Pemupukan Berimbang Lahan SawahRevolusi hijau yang dimulai tahun 1970-an merupakan tonggak sejarah awal penggunaan teknologi pertanian secara besar-besaran di Indonesia.  Puncak keberhasilan revolusi hijau adalah pada tahun 1984 Indonesia mampu berswasembada beras, namun setelah tahun 1984 kenaikan laju produktivitas padi mulai melambat bahkan menurun. Komponen teknologi yang berhasil mendongkrak produktivitas padi sawah diantaranya : penggunaan varietas unggul tipe baru (VUB), penggunaan pupuk kimia dan dan penggunaan pestisida sintesia.Kritik terhadap revolusi hijau mulai bermunculan, hal ini disebabkan kekhawatiran  dampak negatif revolusi hijau terhadap kelestarian lingkungan lingkungan, kemanan konsumsi pangan, kesehatan petani, keberlanjutan sistem pertanian dan kelestarian keanekaragaman hayati.

 

Selengkapnya ...

Digitalisasi Usaha Tani dalam Era Baru Pertanian 4.0Modernisasi pertanian sudah mulai diterapkan Kementerian Pertanian ‎‎(Kementan) sejak 4,5 tahun yang lalu melalui kerangka Revolusi Industri 4.0 atau dikenal juga sebagai Pertanian 4.0. Pertanian 4.0 adalah pertanian presisi yang dikombinasikan dengan teknologi informasi digital, yaitu big data, internet seluler, dan cloud computing. Versi sebelumnya Pertanian 3.0 adalah pertanian berbasis sistem informasi; Pertanian 2.0 adalah pertanian menggunakan alat mekanik atau mechanical farming; dan versi paling awal pertanian secara tradisional dapat dianggap sebagai Pertanian 1.0.

Implementasi Pertanian 4.0 didefinisikan sebagai Smart Agriculture, Smart Farming, Precision Agriculture, dan Precision Farming. Pendekatan dan penerapan sistem pertanian presisi (precision farming) dapat mendukung agroindustri yang berkelanjutan‎. Pertanian presisi adalah bertani dengan input dan teknik yang tepat sehingga ‎tidak terjadi pemborosan sumberdaya. Petani dapat mengolah tanah, menanam, ‎merawat, memanen tanaman secara tepat/presisi berdasarkan informasi ‎yang diterima. Informasi tersebut diperoleh dengan bantuan perangkat teknologi digital ‎yang membantu petani menghitung jarak tanam tepat, kebutuhan benih dan pupuk tepat, ‎umur panen dan jumlah panen tepat. Aplikasi dari informasi presisi tersebut disandingkan dengan penggunaan alat mesin pertanian yang ‎serba pintar.

Selengkapnya ...

Mengenal Ayam KUB-1 ‎(Kampung Unggul Balitbangtan)  dan Peranannya di BPTP BantenAyam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB-1) merupakan salah satu galur ayam hasil pemuliaan ayam kampung (Gallus-gallus domesticus) yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Sifat mengeram ayam KUB-1 telah dikurangi, sehingga ayam melompati masa mengeram setelah bertelur dan dapat siap memproduksi telur kembali. Sifat tersebut menjadi keunggulan ayam KUB-1 dibandingkan ayam kampung biasa, dimana produksi telur dapat mencapai 180 butir/induk/tahun (Tabel 1). Selain keunggulan dalam sifat petelur, ayam KUB-1 juga mempunyai potensi pedaging yang baik. Pada usia panen 12 minggu, bobot ayam KUB-1 mampu mencapai 0,8 – 1 kg (Sartika et.al., 2013).

Selengkapnya ...

Teknologi Pembuatan SilasePakan merupakan sumber energi utama bagi ternak untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan,makin besar tenaga yang dihasilkan dan makin besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

Permasalahan utama dalam penyediaan pakan ternak ruminansia adalah tidak terpenuhinya jumlah dan kecukupan nilai nutrisi, antara lain karena  ketersediaan pakan yang tidak kontinu sepanjang tahun. Pada musim hujan, produksi pakan terutama hijauan meningkat, bahkan berlimpah, sedangkan pada musim kemarau sering terjadi kekurangan pakan.

Apabila dilihat berdasarkan bentuk fisiknya, jenis hijauan pakan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase.

Selengkapnya ....

Indonesia sebagai Negara agraris memiliki sawah seluas 8.087.393 ha (BPS,2015), dengan sawah seluas itu limbah pertanian (jerami padi) yang dihasilkan sangat melimpah.  Limbah jerami yang dihasilkan dalam satu hektar dapat mencapai 4-6 ton jerami. Selama ini khususnya di Banten jerami belum dimanfaatkan secara optimal, umumnya selepas panen padi dibakar begitu saja hanya sebagian kecil jerami dikembalikan lagi ke sawah. Pengembalian jerami ke sawah adalah hal yang baik karena jerami mengandung Nitrogen, Kalium dan unsur mikro yang dibutuhkan oleh tanaman padi. Selain dikembalikan ke sawah, jerami dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan keluarga petani. Jerami dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh jamur merang, jamur merang adalah jamur yang bernialai ekonomi cukup tinggi per Kg dapat mencapai Rp. 35.000 – 45.000.

Selengkapnya ...