JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Deteksi Cemaran Aflatoksin pada Jagung untuk Memperkirakan Mutu Jagung

Aflatoksin adalah metabolit sekunder bersifat racun (toksik) yang dihasilkan oleh kapang dari genus Aspergillus. Nama toksin diambil dari salah satu nama spesies senyawa tersebut berasal, yaitu A. flavus (afla). Spesies kapang lain yang juga memproduksi aflatoksin adalah Aspergillus parasiticus. Aflatoksin yang umum ditemukan pada pakan tercemar adalah aflatoksin B1, B2, G1, dan ‎G2. Aflatoksin B1 mempunyai efek toksik paling berbahaya karena bersifat karsinogenik (golongan IA), hepatatoksik dan mutagenik.

Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang rentan terinfeksi terutama selama penanganan pascapanen. Ternak yang mengkonsumsi pakan yang tercemar aflatoksin akan berakibat tidak ‎berfungsinya gastrointestinal, penurunan daya reproduksi, penurunan produksi telur dan ‎susu, serta penurunan kekebalan tubuh pada ternak.‎ Potensi efek tersebut menjadikan kadar mikotoksin (aflatoksin dan okratoksin) sebagai salah satu kriteria penting, selain kadar air, dalam menentukan kelayakan jagung ‎untuk dikonsumsi.

Syarat mutu jagung untuk konsumsi dan bahan baku industri pangan telah ditetapkan dalam SNI 3920:2013, sedangkan syarat mutu jagung sebagai bahan pakan ternak ditetapkan dalam SNI 4483:2013. Syarat kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ‎ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb.‎

Standar tersebut mewajibkan petani jagung perlu mengetahui status cemaran aflatoksin ‎pada hasil panennya agar mempunyai posisi tawar yang tinggi ketika menjual jagung ke pabrik pakan. Perangkat uji ‎deteksi aflatoksin pada jagung hasil inovasi Balitbangtan telah tersedia untuk menjawab permasalahan petani. Petani dapat dengan mudah dan cepat mengetahui status cemaran aflatoksin pada jagung di lapang, sekaligus dapat ‎dijadikan pedoman oleh petani dalam memperbaiki penanganan pascapanennya

Perangkat uji ‎deteksi aflatoksin ‎mampu menunjukkan bahwa biji jagung yang diduga mengandung aflatoksin akan ‎memendarkan warna fluoresens kehijauan yang khas ketika dipaparkan sinar ultra violet ‎‎(uv) pada panjang gelombang 365 nm.‎ BPTP Banten telah memiliki perangkat tersebut demi mendukung program pemerintah dalam peningkatan produksi jagung.