JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Koran KABAR BANTEN, 28 Desember 2011

BANTEN merupakan wilayah yang memiliki kontribusi penyediaan daging kerbau. Tercatat populasi kerbau di Banten sebanyak 153.004 ekor atau menyumbang 7,92 persen dari total kerbau di seluruh Indonesia.

Hasil identlfikasi menghasilkan sedikitnya ada dua faktor yang menjadi hambatan dalam pengembangan populasi kerbau. Faktor internal menyangkut siklus reproduksi kerbau yang termasuk sulit terdeteksi, karena sifat estrus kerbau yang tidak tampak, biasa disebut dengan birahi tenang (silence heat). Kejadian birahi tenang pada kerbau sangat tinggi, mencapai 70-80 persen. Selain itu, kebiasaan senang berkubang akan menyebabkan gejala birahinya lebih sulit diamati (Jainudeen & Hafez,1987).

Cara untuk mengatasi tersebut, dengan sinkronisasi birahi, baik dengan bantuan hormon progestagen maupun prostaglandin (F-27). Faktor lain adalah peternak belum memahami tentang sistem reproduksi kerbau. Terkait dengan hat tersebut, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten bekerja sama dengan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) melakukan introduksi teknologi sinkronisasi estrus (gertak birahi) di kelompok ternak "Solear Jaya" Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. Keunggulan dari teknologi ini adalah memudahkan dalam deteksi birahi pada kerbau dan ketepatan waktu dalam pelaksanaan inseminasi buatan (IB) dan harapannya akan menghasilkan keturunan yang berkualitas.  Dampak secara sosial dapat dilihat dari respon peternak yang positif dan secara langsung terlibat dalam penanganan sinkromsasi. Kegiatan yang dilakukan meliputi : peternak mengamati perubahan yang terjadi setelah ternaknya disuntik hormon, peternak dibekali pengetahuan tentang ciri-ciri birahi, sehingga peternak segera melapor ke petugas dan IB dapat dilakukan dengan waktu yang tepat.  Menurut Syamsuddin (Ketua Kelompok Solear Jaya) persentase kebuntingan setelah gertak birahi dan IB mencapai 60 persen. (Rika)***