JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Surat Kabar BERKAH

Edisi Nomor 350, Tahun Keduabelas, 1-7 Agustus 2012

Domba/kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang mudah dalam pemeliharaannya.  Masyarakat memiliki kecenderungan memeliharanya secara tradisional.  Hampir di seluruh wilayah Banten kita dapat menyaksikan keberadaan domba/kambing berkeliaran.  Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian tentang pakan dan kandang dianggap kurang penting.  Tentunya tidak terlepas dari tujuan peternak itu sendiri. Mayoritas peternak mengungkapkan bahwa ternak merupakan “tabungan” sewaktu-waktu dijual untuk kebutuhan yang memerlukan dana cukup besar.

Namun demikian, dipandang perlu menyampaikan informasi tentang budidaya domba/kambing yang baik dan benar.  Setidaknya memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa beternak tidak hanya menjadi pekerjaan sampingan, tetapi bisa dimaksimalkan sebagai sumber penambah pendapatan yang bisa jadi mampu memberikan kepastian income bagi keluarga.

Wujud kepedulian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten yaitu dengan adanya kegiatan “Visitor Plot Domba/Kambing”.  Tujuan kegiatan yaitu percepatan transfer teknologi budidaya domba/kambing.  Metode kunjungan lapang dirasakan efektif untuk mendiseminasikan hasil teknologi Badan Litbang Pertanian, dimana pengunjung secara langsung mengamati prosedur/tahapan yang telah dilaksanakan tim visitor.

Untuk mengetahui animo pengunjung, tim visitor plot domba/kambing bekerjasama dengan tim seminar BPTP Banten menyelenggarakan Temu Teknologi yang mengangkat tema “Optimalisasi Teknologi Budidaya Domba/Kambing Dalam Meningkatkan Produk Peternakan”

Peserta yang terdiri dari penyuluh dan petani diajak membahas tentang pentingnya pengembangan plasma nutfah kambing lokal Banten dan pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik dan biogas.

Dijelaskan pula mengenai perbedaan domba dan kambing yang selama ini kedua jenis ini sering dianggap sama.  Pada prinsipnya domba dan kambing merupakan dua jenis yang berbeda, pakan kesukaanpun berbeda. Domba lebih menyukai rumput, sedangkan kambing memilih dedaunan. Pemahaman dasar ini perlu disampaikan agar peternak dapat memberikan perlakuan yang berbeda teradap domba dan kambing.

Tidak hanya itu, peserta secara langsung mengamati paket teknologi yang disuguhkan. Kunjungan dilaksanakan di Kebun Percobaan Singamerta yang sekaligus merupakan areal percontohan kegiatan visitor plot domba/kambing. Dijelaskan bahwa teknologi yang dilaksanakan yaitu tentang pakan, perkandangan, reproduksi dan pengolahan limbah ternak.

Pakan

Domba yang dikembangkan dari bangsa Domba Garut, Komposit Garut dan St. Croix, sedangkan kambing yaitu jenis lokal Banten yang disebut Kambing Kosta. Jenis pakan yang diberikan yaitu hijauan (rumput gajah, rumput lapang, gamal dan lamtoro) dan konsentrat.

Pemberian hijauan sebanyak 10 % dari bobot badan. Jumlah domba 36 ekor dengan rata-rata bobot badan 30 kg, sehingga kebutuhan hijauan per hari + 3kg/ekor/hari. Sedangkan kambing jumlah 10 ekor, rata-rata bobot badan 20 kg, membutuhkan hijauan + kg/ekor/hari

Untuk kecukupan gizi, maka unsur protein dan mineral dapat terpenuhi dari konsentrat yang diberikan. Perhitungan ini akan memudahkan peternak dalam menyediakan pakan, sehingga peternak tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mencari rumput secara berlebihan selama kebutuhan konsumsi pakan telah terpenuhi.

Perkandangan

Tipe kandang yaitu model panggung, dengan tujuan memudahkan pemeliharaan dalam membersihkan/sanitasi kandang. Bahan kandang menggunakan kayu dan bambu. Pemilihan bahan tergantung pada bahan yang cukup tersedia di alam dan mudah didapatkan.

Reproduksi

Peternak seyogyanya memahami ciri-ciri betina birahi, waktu siap kawin dan siklus reproduksi ternak. Karena salah satu kunci keberhasilan pemeliharaan ternak terletak pada anakan yang dihasilkan. Masa bunting domba/kambing 8 bulan dan dapat dikawinkan kembali setelah 30 hari. Dengan manajemen yang baik domba/kambing dapat menghasilkan 3 anak dalam 2 tahun.

Pengolahan Limbah

Sisa hasil ternak berupa urine dan kotoran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, baik dengan tambahan bakteri pengurai maupun alami. Selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan biogas.

Sambil mengamati dan mempelajari teknologi yang disampaikan, pengunjung dibekali kuisioner, alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pengunjung terhadap teknologi budidaya domba/kambing. Klasifikasi tingkat kepuasan dibagi menjadi empat tingkat: Tidak Puas (skor <2,5), Cukup Puas (skor 2,6-5,1), Puas (skor 5,2-7,7) dan Sangat Puas (skor >7,8)

Terdapat lima pertanyaan yang diajukan: Performa / Keragaan / Penampilan domba, yang selanjutnya diberi kode (A); Performa / Keragaan / Penampilan Kambing Kosta, yang selanjutnya diberi kode (B); Jenis pakan (rumput gajah, rumput lapang, gamal) dan sistem pemberian diberi kode (C); Perkandangan (tipe panggung) dan kebersihan/sanitasi kandang diberi kode (D) dan Pemanfaatan limbah (faeces/kotoran) menjadi pupuk dan biogas diberi kode (E). Data yang diperoleh tersaji pada gambar berikut:

Menunjukkan bahwa diseminasi teknologi tentang teknologi budidaya domba/kambing dirasakan puas oleh pengunjung. Hal ini menjadi dasar perlu adanya pendekatan kelompok yang lebih intensif agar percepatan adopsi teknologi dapat terealisasi secara efektif. Harapannya, terjadi perubahan perilaku peternak sehingga ada perbaikan dalam sistem pemeliharaan domba/kambing di Banten