JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peningkatan Kapasitas Penangkar Kedelai Melalui Pendampingan dan Penggunaan Varietas Unggul di Kabupaten Serang, Provinsi Banten

Prosiding Seminar Nasional PPSL, 2011. BB Pengkajian 2012, hal 833

Penangkaran benih kedelai telah dilakukan oleh petani di wilayah Kab. Serang. Namun kapasitas produksil benih dan mutu benih yang dihasilkan masih rendah. Hal ini disebabkan petani menggunakan benih dari hasii panen sebelumnya atau benih yang tidak berlabel dan teknologi produksi benih belum dikuasai serta diterapkan, Disisi lain, belum berjalannya fungsi kelembagaan perbenihan kedelai di Provinsi Banten mengakibatkan produksi benih sumber dan alur distribusinya terputus. Kinerja dan kapasitas penangkar benih kedelai juga masih lemah. Kondisi ini mengakibatkan ketersedian benih sumber dan benih sebar sangat terbatas. Untuk itu. Sangat diperlukan peran penangkar dalam penyediaan dan menyebarkan benih sebar yang bermutu kepada petani untuk digunakan sebagai benih tujuann konsumsi. Pembinaan penangkar kedelai telah dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten dengan memberikan bimbingan teknis dan introduksi varietas unggul baru melalui kegiatan PIPKPP/RISTEK 2010. Varietas benih unggul kedelai yang diintroduksikan adalah Kaba yang merupakan kelas benih BS dari Balitkabi—Malang. Perbanyakan benih kedelai menerapkan introduksi teknologi benih sumber. Teknik perbanyakan benih mengikuti Pedoman Produksi Benih Sumber kedelai oleh Badan Litbang Pertanian. Kapasitas penangkar sebelum dan sesudah menerapkan inroduksi teknologi akan dibandingkan produksi dan keuntungan/pendapatan yang diperoleh petani. Untuk menghitung keuntungan dilakukan analisis diskripsi dan analisa ekonomi (R/C dan MBCR). Melalui pendampingan teknologi dan introduksi varietas unggul baru kedelai telah dapat meningkatkan produksi dan diperolehnya benih bermutu dan bersertifikat serta penambahan pendapatan petani penangkar. Hasil produksi benih kedelai pola BPTP sebesar 980 kg/ha dan cara petani sebesar 800 kg/ha. Keuntungan yang diperoleh penangkar dengan pola BPTP sebesar Rp. 6.660.000, nilai RC ratio 2,31 dan B/C 1,31 lebih tinggi jika dibandingkan dengan keuntungan kedelai cara petani yaitu sebesar Rp 2.820.000 dan nilai R/C 1.88 serta B/C 0,89. Nilai MBCR dari penerapan teknologi produksi benih sumber kedetai sebesar 2,85 yang berarti setiap tambahan biaya dalam menerapkan teknologi tersebut sebesar Rp.1.000 dapat meningkatkan penerimaan petani sebesar Rp. 2.850 dan teknologi produksi benih sumber kedelai layak dikembangkan penangkar. Pembinaan bagi penangkar benih secara berketal ierlu dilakukan sehingga peran penangkar dalam penyediaan benih kedelai berjalan dengan baik.